Sebelum Ada Listrik, Anak-anak di Desa Papua Ini Jalan 20 Km Untuk Belajar

Sebelum Ada Listrik, Anak-anak di Desa Papua Ini Jalan 20 Km Untuk Belajar

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jumat, 16 Des 2016 08:12 WIB
Sebelum Ada Listrik, Anak-anak di Desa Papua Ini Jalan 20 Km Untuk Belajar
Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jayapura - Masih banyak desa pelosok di Indonesia, khususnya Papua, yang belum merasakan kehadiran listrik seutuhnya. Akibatnya, banyak hal yang belun didapatkan masyarakat secara maksimal, seperti di Desa Puai, Kabupaten Jayapura, contohnya.

Masyarakat di desa yang telah berdiri sejak tahun 1940 itu baru mendapatkan aliran listrik setelah 76 tahun lamanya. Sebelumnya, mereka hanya mengandalkan genset dengan biaya yang tidak murah, bahkan mengandalkan lampu petromaks untuk penerangan.

Fredrick, salah seorang warga Puai mengaku, selama ini ada banyak sekali kesulitan warga desa akibat tidak adanya listrik, terutama masalah penerangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari minimnya penerangan itu, kendala melebar ke mana-mana. Yang paling dirasakan dengan sulitnya penerangan adalah kesulitan belajar bagi anak-anak.

Selama ini, kata Fredrick, anak-anak yang ingin belajar harus pergi ke kota yang sudah terjamah listrik dengan menempuh jarak 15-20 kilometer jauhnya.

"Karena kalau menggunakan petromaks, mata anak-anak jadi sakit dan terganggu. Akhirnya, kita ungsikan anak-anak untuk tinggal di luar, bersama keluarga di kota yang ada listriknya supaya bisa belajar dengan fokus. Itu jauhnya sekitar 15-20 km, di Yoka yang paling dekat," kata Fredrick saat berbincang dengan detikFinance, Kamis (15/12/2016).

"Jadi setiap hari Minggu mereka (anak-anak) pergi ke kota untuk belajar. Baru kemudian setiap hari Sabtu mereka pulang untuk bertemu orang tuanya," lanjut dia.

Namun, kini setelah PT PLN (Persero) telah mendistribusikan listrik ke desa tersebut pada, Kamis (15/12/2016), anak-anak sudah tidak perlu pergi jauh untuk belajar.

"Mereka sekarang bisa belajar di desa tak perlu pergi jauh menumpang di kota lagi, lampu (listrik) sudah 24 jam nyala di sini, orang tua juga senang bisa terus bersama anak-anaknya. Listrik ini banyak manfaat bagi kita (warga desa)," cerita Fredrick. (wdl/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads