Proyek yang merupakan bagian dari Fast Tracking Project (FTP) di masa lalu ini dibangun oleh kontraktor dari China. Mesin-mesin pembangkit listriknya pun 'Made in China'. Harganya memang sangat murah dibanding harga rata-rata PLTU dengan kapasitas 100-an MW, biaya investasinya hanya US$ 1,1 juta per MW, sementara harga rata-rata mencapai US$ 2 juta per MW atau hampir 2 kali lipatnya.
Harga yang murah ini berbanding lurus dengan kualitas. PJB pun harus bekerja ekstra keras dalam menjalankan operasi dan pemeliharaan PLTU Pulang Pisau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Michael Agustinus |
"Kendalanya (operasi PLTU Pulang Pisau) masalah kualitas produk. Karena harganya murah, hanya US$ 1,1 juta/MW, biasanya US$ 1,8-2 juta/MW," tutur Direktur Utama PJB, Iwan Agung, saat ditemui di PLTU Pulang Pisau, Selasa (20/12/2016).
Agung mencontohkan, boiler dan kondensor PLTU Pulang Pisau sering mengalami kerusakan, seperti halnya pembangkit-pembangkit buatan China lainnya di FTP. Kebanyakan pembangkit buatan China kurang andal, PJB harus melakukan upgrade agar lebih andal.
"Paling banyak (rusak) di boiler, sering bocor. Dinding-dinding pelapis sering pecah sehingga menjadi panas. Kedua kondensor, tiap kali shutdown selalu bocor. Keandalan pembangkit yang diterima dari China biasanya cuma 50%, mesti kita upgrade," ujarnya.
Selain itu, manual untuk petunjuk pengoperasian berjumlah minim dan memakai bahasa China. Begitu juga program-programnya, banyak memakai bahasa China. Tentu para pegawai PJB kesulitan memahaminya.
Foto: Michael Agustinus |
"Maintenance operation manual minim, pakai bahasa China. Bahkan bukan cuma manual, tampilannya juga pakai bahasa China," katanya.
Agung juga mengeluhkan kurangnya transfer pengetahuan dari kontraktor-kontraktor China kepada para pekerja Indonesia. Padahal transfer ilmu dan teknologi amat penting agar PJB dapat mengoperasikan pembangkit dengan baik.
Foto: Michael Agustinus |
"Mereka kebanyakan transfer knowledge-nya nggak bagus. Mereka bilang operator kita nggak siap, tapi sebenarnya metode-metodenya nggak terstruktur," dia mengungkapkan.
Untuk mengatasi masalah ini, PJB membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) sendiri berdasarkan pengalaman para pekerjanya mengoperasikan pembangkit-pembangkit buatan China.
"Kita banyak mengoperasikan pembangkit China, kita ada pengalaman di berbagai daerah, banyak pengalaman. Kita buat SOP dari pengalaman teman-teman. Dari best practice saja, kita jadikan SOP," pungkasnya.
Foto: Michael Agustinus |












































Foto: Michael Agustinus
Foto: Michael Agustinus
Foto: Michael Agustinus
Foto: Michael Agustinus