Di tiap desa terdapat 50-100 rumah tangga atau kurang lebih 200-400 orang penduduk, maka total ada sekitar 80.000-160.000 penduduk di kedua provinsi itu yang sampai hari ini belum mendapat listrik sejak Indonesia merdeka 71 tahun lalu.
Agar para penduduk desa ini dapat menikmati listrik seperti halnya penduduk di kota-kota besar, PLN telah menyiapkan dana Rp 168 miliar untuk menerangi 56 desa di Kalsel dan 49 desa di Kalteng di 2017, total ada 105 desa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak mudah melistriki desa-desa di pedalaman Kalsel dan Kalteng itu. Purnomo menjelaskan, desa-desa tersebut belum terhubung oleh jalan raya. Jaringan listrik PLN disambung di pinggir-pinggir jalan raya. Sulit membuat jaringan distribusi listrik ke sana kalau jalan raya saja belum ada.
Di samping masalah infrastruktur, kendala lain yang harus dihadapi PLN adalah mahalnya biaya investasi. Desa-desa di pedalaman Kalimantan hanya dihuni sekitar 200-400 penduduk, lokasinya tersebar-sebar. Ini membuat biaya pembangunan jaringan menjadi mahal.
Meski banyak rintangan, tak berarti PLN membiarkan desa-desa itu terus-terusan gelap gulita. PLN membangun jaringan ke desa-desa di Kalimantan melalui sungai ketika jalan raya belum tersedia. "Kadang jalan nggak ada kami lewat sungai," tukasnya.
Purnomo menargetkan 97% Kalsel dan Kalteng sudah terlistriki pada 2019, desa-desa tak berlistrik itu pun harus segera terang benderang. "Di Kalsel sudah tinggal kurang dari 80 desa, 2018 kita selesaikan. Tahun ini kami listriki sekitar 112 desa. Kalteng target kita rasio elektrifikasi sampai 97 persen di 2019," tutupnya. (wdl/drk)











































