UEA dipilih menjadi tujuan studi banding karena negara ini bisa memproduksi listrik EBT dengan tarif yang jauh lebih murah dibandingkan Indonesia. Misalnya, tarif listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di UEA dihargai US$ 2,42 sen per kWh, sedangkan tarif listrik PLTS di Indonesia mencapai US$ 14 per kWh.
"Bahwa kemudian dibandingkan dengan UEA kan besok lusa kita juga ke sana. Kita sedikit ingin tahu mereka kok bisa sebesar itu," jelas Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana di PLTP Lahendong Unit 5 dan 6, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Selasa (27/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan sudah terima arahan, efisiensi arahannya. Dan ada beberapa peluang kalau saya sih di hulunya sebelum ada insentif macam-macam coba dibedah dulu struktur cost-nya ada enggak yang bisa diefisienkan," ujar Rida.
Mengenai adanya makelar di bisnis listrik EBT, Rida juga mengatakan pihaknya akan melakukan pengawasan yang lebih ketat dalam bisnis ini.
"Tapi yang saya tangkap itu semangatnya dan kalaupun masih ada hal-hal yang aneh-aneh terutama perizinan, broker atau apa ya diminimalisir," tutup Rida. (ang/ang)











































