Di UEA, PLTS bisa memproduksi listrik dengan harga hanya US$ 2,99 sen/kWh alias Rp 390/kWh. Sedangkan di Indonesia, Feed in Tariff untuk PLTS mencapai US$ 15 sen/kWh atau sekitar Rp 2.000/kWh.
Sebagai pembanding, biaya pokok produksi (BPP) listrik di Indonesia saat ini sekitar Rp 1.352/kWh. Sumber energi yang paling banyak digunakan untuk kelistrikan adalah batu bara. Harga listrik dari batu bara sekitar Rp 800/kWh. Artinya, biaya produksi listrik dari tenaga surya di UEA bahkan jauh lebih murah ketimbang listrik batu bara di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu yang saya heran, kok di Indonesia sampai segitu (US$ 15 sen/kWh)," kata Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN, I Made Suprateka, saat dihubungi detikFinance, Rabu (28/12/2016).
Made menduga biaya investasi untuk membangun PLTS di Indonesia lebih mahal karena kebanyakan dibangun di daerah terpencil. "Mungkin kita investasinya lebih mahal karena di daerah terpencil," ucapnya.
Selain itu, ia memperkirakan bahwa sinar matahari di UEA dalam sehari bisa lebih lama dari di Indonesia, sehingga dapat memproduksi listrik lebih banyak. "Panasnya (sinar matahari) misalkan di UEA bisa 16 jam, di Indonesia misalkan 12 jam," ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya sepakat dengan Jonan bahwa harga-harga listrik dari EBT di Indonesia perlu diefisienkan. Misalkan Feed in Tariff untuk pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH), menurut Made harusnya bisa di bawah US$ 12 sen/kWh untuk di Pulau Jawa.
"Ada kebijakan yang membuat harga mahal. PLTMH sebenarnya (harga listriknya) bisa ditekan, harus harga wajar lah. Kecuali kalau untuk daerah remote seperti Papua, ya boleh saja tarifnya dinaikkan, Rp 2.500/kWh pun kita beli, tapi beda kalau di Jawa," tutupnya.
(mca/hns)











































