Di sisi lain, banyak warga desa di Papua yang belum mendapatkan listrik. Padahal, dana subsidi untuk para pelanggan 'mampu' bisa dipakai untuk membangun infrastruktur kelistrikan di daerah-daerah terpencil.
"Masak orang punya kulkas, AC, ricecooker, mesin cuci dapat subsidi jauh lebih besar dari orang-orang desa di Papua? Kejadiannya seperti itu. Jadi waktu saya masuk itu saya kaget luar biasa, PLN memberikan subsidi untuk 46 juta pelanggan. Sedangkan setahu saya, bantuan langsung tunai (BLT) penerimanya hanya 15,7 juta orang miskin. Pasti ada kelebihan pemberian subsidi," kata Sofyan usai press briefing di Gedung Bina Graha, Jakarta, Jumat (6/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antaranya untuk membangun infrastruktur listrik di desa-desa terpencil dan menambah penerima subsidi listrik 450 VA. Tahun ini, pelanggan listrik rumah tangga 450 VA bertambah 4 juta.
"Kita dudukkan dengan benar hari ini, orang miskin yang dapat subsidi ditambah oleh pemerintah. 4 juta pelanggan lho jadi 27 juta pelanggan," ujar Sofyan.
Pihaknya berharap masyarakat dapat memahami tujuan dari kebijakan subsidi listrik tepat sasaran ini. Sosialisasi terus dilakukan supaya masyarakat tidak melihatnya sebagai kenaikan tarif yang menambah beban. Tapi upaya untuk meringankan beban masyarakat miskin.
"Kami sosialisasi setiap saat di desa dan kota-kota. Yang agak marah kan yang menengah ini, yang punya gadget banyak marah-marah di media sosial," tutupnya.
(mca/dna)











































