Demikian cerita dari Duta Besar RI Untuk UEA Husin Bagis di Abu Dhabi, saat ditemui di kantornya, Minggu (15/1/2017).
"UEA siap untuk berinvestasi di Indonesia, namun harus diberikan informasi soal peluang-peluang investasinya apa. Selama ini mereka kurang informasi. Makanya saya minta pemerintah di Jakarta mengirimkan informasinya," kata Dubes yang baru 9 bulan menjabat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu, Jokowi bertemu dengan Crown Prince, Syeikh Muhammad dan dijanjikan investasi besar.
"Negeri ini sekarang sudah cenderung berinvestasi ke negara-negara Asia Tenggara, apalagi Indonesia merupakan salah satu negara muslim terbesar. Mereka punya dana triliunan dolar AS," kata Husin.
Terdekat, Menteri ESDM, Ignasius Jonan pada Senin (16/1/2017), mengunjungi Abu Dhabi untuk melihat perkembangan energi terbarukan.
Di UEA, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bisa memproduksi listrik dengan harga hanya US$ 2,99 sen/kWh alias Rp 390/kWh. Lebih murah dari Indonesia, Feed in Tariff untuk PLTS yang mencapai US$ 15 sen/kWh atau sekitar Rp 2.000/kWh.
Dubes mengatakan, UEA siap untuk menginvestasikan dana untuk proyek energi terbarukan di Indonesia. Perusahaan pengembang energi terbarukan di UEA adalah Masdar.
"Masdar punya proyek besar di London pada sektor energi terbarukan. Untuk Indonesia mereka siap," ujar Husin.
Tak hanya energi terbarukan, UEA juga siap berinvestasi di sektor infrastruktur di Indonesia. "Dan mereka murni investasi dengan membawa uang saja. Tidak membawa tenaga kerja. Tapi syaratnya tidak pakai tender. Karena kalau pakai tender pasti tidak lolos karena mereka tidak punya pengalaman," papar Husin.
"Sekarang tinggal beri informasi peluang investasi di Indonesia, karena akses informasi investasi di Indonesia sulit," ujarnya. (dnl/ang)











































