Bertempat di Wisma milik Kedutaan Besar Indonesia di Abu Dhabi, Jonan berdialog dan tanya jawab dengan WNI. Pertanyaan yang diajukan cukup kritis, mulai dari isu tenaga kerja, energi nuklir, hingga tugas yang didapatnya dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam acara ini, Jonan didampingi Duta Besar RI Untuk UEA, Husin Bagis.
Soal nuklir, Jonan ditanya mengapa Indonesia tidak mau mengembangkan listrik dari tenaga nuklir yang murah. Padahal UEA sebagai produsen minyak terbesar ketiga di dunia tengah giat mengembangkan energi alternatif, dan juga nuklir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Wahyu Daniel |
Kemudian ada juga yang bertanya, apa sebenarnya tugas yang diberikan Presiden Jokowi kepada Jonan saat dirinya ditunjuk sebagai Menteri ESDM.
Jonan memaparkan, dirinya diminta Presiden Jokowi membuat industri migas di dalam negeri efisien.
"Dari dulu saya tidak pernah kagum terhadap industri migas. Karena saya lihat tidak banyak yang berpikir efisien pada industri ini. Apalagi tidak ada yang bisa menentukan harga energi, semua tergantung pasar global. Karena itu efisiensi harus dilakukan sehingga harga energi di Indonesia bisa ditekan. Untuk efisiensi sektor migas, that's my job," kata Jonan.
Bagaimana langkah efisien dan menekan harga energi? Jonan menjelaskan, kunjungannya ke Abu Dhabi sebagai langkah mengefisienkan energi. Karena harga listrik energi mataharisnya jauh lebih murah dibandingkan Indonesia.
"Kalau listrik mahal maka daya saing bangsa turun," ujar Jonan.
Dalam pertemuan yang berlangsung 2 jam lebih ini, Jonan juga ditanyai soal pengembangan listrik energi panas bumi atau geothermal di Indonesia.
Pengembangan panas bumi di Indonesia belum banyak, padahal Indonesia memiliki cadangan panas bumi terbesar nomor 2 di dunia, dengan potensi 30.000 megawatt. Namun yang digunakan sedikit.
"Kami mau kembangkan panas bumi. Tapi harga listriknya harus masuk akal," ungkapnya.
(dnl/ang)












































Foto: Wahyu Daniel