Terangi 4 Daerah Perbatasan, PLN Terpaksa Impor Listrik dari Malaysia

Terangi 4 Daerah Perbatasan, PLN Terpaksa Impor Listrik dari Malaysia

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 18 Jan 2017 10:24 WIB
Terangi 4 Daerah Perbatasan, PLN Terpaksa Impor Listrik dari Malaysia
Ilustrasi (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Untuk menerangi beberapa daerah di Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, PT PLN (Persero) terpaksa mengimpor listrik dari Negeri Jiran. Sebab, kabupaten-kabupaten di perbatasan itu sulit dijangkau.

"Daerah-daerah ini remote, susah terjangkau. Daerah perbatasan seperti Entikong, Krayan, itu lebih mudah mudah dijangkau dari Malaysia," kata Direktur Bisnis Regional Kalimantan PLN, Djoko Abumanan, kepada detikFinance, Rabu (18/1/2017).

Ada 4 kabupaten di perbatasan yang listriknya impor dari Malaysia, yaitu Sambas, Bengkayang, Entikong, dan Kapuas. Sebanyak 4 kabupaten perbatasan tersebut sudah tersambung oleh jalan raya dari Malaysia. Total listrik yang diimpor kira-kira 8 MW untuk menerangi 4 kabupaten.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada empat titik masing-masing 2 MW," tukasnya.

Adanya jalan raya memungkinkan pembangunan jaringan listrik dari Malaysia ke Indonesia. Dari Indonesia sendiri malah belum ada jalur darat menuju ke sana. Tak hanya listrik saja, kebutuhan-kebutuhan pokok di daerah perbatasan juga dipasok dari Malaysia.

"Krayan, ada jalan dari Indonesia saya tanya? Enggak ada. Entikong kebetulan sudah ada jalan dari Malaysia, listrik ada dari Indonesia dan Malaysia, tapi lebih murah dari Malaysia. Murah dari Malaysia Rp 550/kWh. Yang dari Indonesia pakai diesel (PLTD) Rp 2.000/kWh, sistem kita belum sebagus mereka," ucapnya.

Ia menambahkan, listrik yang diimpor dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Malaysia harganya hanya Rp 550/kWh. Belum ada pembangkit listrik dengan energi murah di wilayah Indonesia yang mampu memasok ke 4 kabupaten di perbatasan itu.

Kalau dipaksakan tak impor listrik, PLN harus menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) untuk menerangi daerah-daerah itu. Solar untuk PLTD akan sangat mahal karena distribusinya sulit sekali. Toh minyak solar untuk PLTD juga impor.

"Ini lebih murah, daripada beli minyak mahal kita beli listrik saja. Minyak dari sana, saya pakai dari sana Rp 20 ribu/liter. Minyaknya juga dari sana (Malaysia), mending beli listriknya," ucap Djoko.

Impor listrik dari Malaysia ini baru bisa disetop jika infrastruktur ke daerah-daerah perbatasan sudah bagus. Jika sudah ada jalan raya, PLN bisa membangun jaringan listrik menuju wilayah-wilayah perbatasan. Dengan begitu, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) atau pembangkit lain yang energinya murah dari wilayah lain di Kalimantan bisa memasok listrik ke perbatasan.

"Infrasturkturnya dulu, sekarang jalan enggak ada gimana? Saya kemarin ke Krayan saja harus sewa helikopter Rp 800 juta. Kalau di sana ada jalan kami bangun lisitrik," pungkasnya. (mca/dna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads