Di depan mahasiswa-mahasiswi, Jonan menuturkan bahwa saat ini perubahan-perubahan terjadi begitu cepat di dunia. Salah satu contohnya adalah kemunculan Facebook yang dalam 10 tahun nilai asetnya bisa melampaui ExxonMobil.
ExxonMobil, perusahaan minyak terbesar di dunia yang usianya sudah lebih dari 100 tahun, ternyata nilai asetnya bisa dilampaui oleh Facebook.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin yang ingin disampaikan Jonan adalah perkembangan zaman begitu cepat. Semua orang harus bisa menyesuaikan diri dengan cepat agar tak tergilas zaman.
Jonan meminta para mahasiswa-mahasiswi STEM Akamigas nantinya saat memasuki dunia kerja tidak terjebak pada zona nyaman, harus terus belajar dan mengikuti perkembangan zaman.
"Jadi nanti kalau adik-adik masuk ke dunia kerja, yang penting pikirannya selalu mengikuti perkembangan zaman, jangan sampai tidak," tandasnya.
Contoh perubahan lain yang diceritakan Jonan adalah perkembangan energi baru terbarukan (EBT). Di Uni Emirat Arab (UEA), harga listrik dari tenaga surya sudah murah sekali, kurang dari US$ 2,99 sen/kWh, sudah bisa bersaing dengan energi fosil.
Indonesia yang sudah jadi importir minyak dan cadangannya hampir habis harus segera berinovasi mencari sumber energi yang efisien, serta berkelanjutan untuk masa depan.
"Saya baru pergi ke Abu Dhabi beberapa hari lalu. Emirat itu konsumsi dalam negerinya tidak sampai 5% dari produksi minyak mereka yang mencapai 3 juta barel per hari (bph). Mereka pun sudah memikirkan bagaimana membuat listrik dari tenaga surya. Mereka sekarang lagi merancang PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) 5.000 MW. Kita harus lebih kreatif, kalau enggak bisa kalah," ucapnya.
Dirinya berharap STEM Akamigas bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas, dapat membangun kedaulatan energi Indonesia.
"Adik-adik yang masih punya waktu usia produktif 30-40 tahun ke depan, kerjanya harus efektif dan efisien. Kalau enggak ditinggal oleh dunia. Sekolah ini harus sangat hebat lulusannya, bekerja efisien dan efektif, mudah-mudahan bisa gantiin saya nantinya. Saya saja yang enggak sekolah energi bisa jadi Menteri ESDM," tutupnya. (idr/ang)











































