Dengan konverter kit tersebut, kini para nelayan tak lagi menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk menjalankan perahunya, namun mereka dapat menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) yang dinilai lebih murah.
"Kalau pakai bensin paling hampir Rp 50 ribu-Rp 60 ribu untuk 2 jam, 3 jam. Setelah pakai gas ya Rp 30 ribu. Lebih murah Rp 20 ribu-Rp 30 ribu," ungkap salah seorang nelayan, Nyoman Rate saat berbincang kepada detikFinance di Karangasem, Bali, Jumat (27/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enggak (sulit), sama-sama saja. Gampang kok (penggunaan mesinnya. Perawatannya (mesinnya) belum ada kerusakan sudah beberapa bulan ini dipakai," kata dia.
Salah seorang nelayan lainnya, Made Rumani juga mengatakan, bahwa dengan adanya konverter kit ini biaya operasional menjadi lebih murah dibanding menggunakan BBM.
Namun demikian, ia mengatakan, walau mesin ini sudah sangat meringankan beban operasional dalam mencari hasil tangkap laut, tapi masih ada sedikit kekurangan yang dimiliki dari alat ini.
Made mengatakan, kekurangan dari mesin ini adalah tidak adanya penunjuk atau keterangan dari BBG yang telah digunakan. Jadi, para nelayan tidak mengetahui jika gas sudah habis atau belum.
"Yang menjadi kendala itu enggak ada kilometernya itu. Jadi enggak tahu habis atau masih itu gasnya. Kadang-kadang mati mesinnya. Karena enggak ketahuan habisnya. Itu kendalanya itu doang. Kita asyik-asyik ke tengah, tahu-tahu mati mesinnya. Sisanya enggak ada masalah," tuturnya. (hns/hns)











































