Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi, mengatakan pembatalan kerja sama pembangunan RDMP dengan raksasa minyak tersebut, lantaran ada ketidaksepahaman dalam target pembangunan. Menurutnya, Pertamina menginginkan penyelesaian bisa dilakukan lebih cepat.
"Semua itu kan tergantung situasi dan kondisi. Saat penandatanganan joint venture agreement dari 2 CEO, sudah ada kesepakatan untuk mengejar waktu yang dilakukan dalam 2 tahap. Akhirnya karena tidak sepakat, Pertamina jalankan sendiri," kata Hardadi, di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Senin (30/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan untuk pembangunan RDMP Cilacap, Saudi Aramco telah sepakat dengan Pertamina mempercepat penyelesaian pembangunan kilang itu lebih cepat dari target awal, yakni di 2021, dari sebelumnya yang disepakati rampung di 2022.
"Jadi dari awalnya kerja sama Dumai dan Balongan, yang kerja sama dengan Aramco hanya kilang Cilacap saja. Bahkan sudah ada komitemen kuat dari Saudi Aramco untuk mempercepat kilang Cilacap ke 2021," jelas Hardadi.
Head of Agrement (HoA) untuk RDMP Dumai dan Balongan antara Pertamina dan Saudi Aramco sudah harus diteken sebelum 26 November 2016, meski kemudian dibatalkan.
Sebagai informasi, saat ini kapasitas terpasang seluruh kilang Pertamina mencapai 853 ribu barel per hari (bph). Sedangkan kebutuhan minyak Indonesia tercatat sebesar 1,57 juta bph.
Ada empat proyek RDMP yang dikerjakan Pertamina untuk meningkatkan produksi bagan bakar minyak (BBM) di dalam negeri yaitu RDMP Ciladap, Balongan, Dumai, dan Balikpapan. Apabila seluruh RDMP ini selesai, maka kapasitas keempat kilang itu akan naik dari 820 ribu bph menjadi 1,61 juta bph.
Selain itu, 2 kilang baru akan dibangun, yaitu Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan Bontang. Masing-masing berkapasitas 300.000 bph. Semua proyek kilang ditargetkan selesai sebelum 2023. Kalau semuanya berjalan lancar, Indonesia tak lagi mengimpor BBM mulai 2023. (idr/wdl)











































