Kemenperin: Gas Impor Bisa Murah, di Bawah US$ 6/MMBtu

Yu - detikFinance
Selasa, 31 Jan 2017 22:05 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Dalam rapat soal harga gas di Istana pekan lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka kesempatan bagi industri mengimpor gas agar mendapatkan harga yang lebih rendah. Impor ini disebabkan karena sulitnya merealisasikan harga gas US$ 6/ MMBtu untuk industri.

Menurut Plt Sekjen Kemenperin, Haris Munandar, harga gas impor dari negara asalnya bisa hanya US$ 3/ MMBtu. Ditambah biaya pengiriman dengan kapal, ongkos regasifikasi, biaya transmisi, dan distribusi, harga gas impor masih bisa di bawah US$ 6/MMBtu sampai di industri dalam negeri.

"Kita impor gas, ada proses pipa, ada proses regasifikasi, kemudian cost-cost lain. Kalau kita lihat kita impor dari negara lain, bisa saja harganya US$ 3/MMBtu. Kita sih menghitung kemungkinan sekitar US$ 6/ MMBtu itu bisa," ujar Haris di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa, (31/1/2017).

Ia mengatakan nantinya semua industri bisa mengimpor gas. Pasokan impor ini akan memasok juga daerah yang masih kekurangan gas untuk industri. Namun, saat ini belum ditentukan dari negara mana gas impor.

"Kalau impor bisa dimanfaatkan siapa saja. Ada beberapa yang tidak hanya karena gas mahal, tapi memang kurang. Tidak bisa memenuhi suplainya ke industri," ujarnya.

"Jadi ada beberapa daerah yang sangat membutuhkan gas, yang tadi kita lihat industrinya membutuhkan gas. Kita bisa mengimpor dari negara mana saja, tapi tetap dari pemerintah ESDM kita tentukan," imbuhnya.

Secara terpisah, Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, berpendapat bahwa gas impor belum tentu lebih murah dibanding gas dari dalam negeri. Sulit mengharapkan gas murah di bawah US$ 6/MMBtu dari impor. "Kalau di bawah US$ 6/MMBtu sepertinya sulit. Bisa jadi lebih mahal (dibanding gas dari dalam negeri)," kata Wirat kepada detikFinance.

Semakin jauh lokasi kilang LNG, tentu biaya pengapalan semakin mahal. Biaya pengapalan LNG dari luar negeri tentu lebih mahal dari dalam negeri. Meski harga LNG impor saat di kilangnya lebih murah dibanding LNG domestik, landed price-nya saat tiba di Indonesia bisa lebih mahal dari LNG domestik karena tingginya ongkos pengiriman. "Itu harus dihitung, apalagi kalau dari Australia, Qatar, Eropa. Enggak jauh beda sama LNG domestik, bisa jadi lebih mahal," tuturnya.

Harga LNG dunia juga berpatokan pada harga minyak. Dengan harga minyak yang sekarang sudah bertengger di atas US$ 50/barel, sulit mendapatkan LNG murah seperti awal tahun 2016 lalu. "Sekarang minyak sudah di atas US$ 50/barel," ucap Wirat.

Kalaupun landed price LNG impor bisa di bawah US$ 6/MMBtu saat tiba di Indonesia, harganya masih harus ditambah juga dengan ongkos regasifikasi, tarif pipa transmisi, dan tarif distribusi. (mca/mca)