Dirut Pertamina Definitif Harus Ahli di Bidang Migas

Dirut Pertamina Definitif Harus Ahli di Bidang Migas

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Minggu, 05 Feb 2017 18:15 WIB
Dirut Pertamina Definitif Harus Ahli di Bidang Migas
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Pertamina (persero) Jumat lalu (3/2) memutuskan pemberhentian Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang sebagai Direktur Utama dan Wakil Direktur Utama Pertamina. Kursi Dirut Pertamina kini diisi oleh Pelaksana tugas (Plt), Yenni Andayani. Posisi Dirut secara definitif sendiri akan diputuskan paling lambat 30 hari sejak pemberhentian.

Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Satya Yudha menginginkan, Direktur Utama baru Pertamina nantinya harus diisi oleh orang yang benar-benar berpengalaman dan mempunyai pemahaman yang baik di bidang minyak dan gas.

"Yang kami kehendaki adalah memilih seorang Presiden Direktur yang betul-betul mumpuni, mempunyai latar belakang yang cukup di bidang manajemen dan juga mumpuni di sektor minyak dan gas bumi. Kita tidak menginginkan bahwa nanti Presiden Direktur yang baru harus mengalami masa transisi," katanya saat ditemui di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (5/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, Dirut Pertamina yang baru juga harus memiliki kemampuan dari pemimpin sebelumnya. Kemampuan manajemen yang baik dilengkapi pengalamannya di bidang migas dipercaya bisa cepat beradaptasi membawa Pertamina bersaing di industri migas dunia.

"Jadi harus orang yang siap betul di dalam industri itu. Karena mengingat pemutusan atau penggeseran daripada Direktur Utama ini sangat anomali. Dengan kinerja Pertamina yang membumbung tinggi, dengan laba sekitar Rp 40 triliun atau sekitar US$ 2 miliar, melebihi Petronas yang hanya US$ 1,6 miliar," tambahnya.

Terlebih ke depannya Pertamina memiliki tanggung jawab yang lebih berat lagi. Sehingga kualitas dalam memanajemeni sebuah korporasi sangat dibutuhkan.

"Jadi ya paling tidak di dalam manajemen korporasi. Apabila ada calon dari dalam, itu lebih efektif karena mereka tidak perlu ada suatu transisi, apalagi penyesuaian. Apalagi kalau direksi sekarang sudah mengetahui RKAP, sudah mengetahui strategi jangka panjang. Dan jangan jadikan Pertamina ini sebagai industri trial and error lah. Kasihan industrinya," pungkasnya.

(mkj/mkj)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads