Selanjutnya, akhir April, Pertamina mengumumkan pemenang lelang yang menjadi mitranya di proyek NGRR Bontang.
"Kalau project expose-nya Kilang Bontang kan mulai akhir Februari ini. Harapan kami akhir April sudah diperoleh strategic patner dan sudah dibentuk konsorsiumnya (Joint Venture). Seleksinya akhir sampai akhir April," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi, saat ditemui di Kilang Balongan, Indramayu, Kamis (16/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasokan minyak mentah bisa dari mana saja, tidak harus dari partner.
"Kalau di Tuban kan kita syaratkan yang berpengalaman bangun kilang, yang punya pasokan crude sampai 50 tahun. Mengacu pengalaman-pengalaman itu semua, ternyata untuk pasokan crude itu di dunia tidak mesti harus tergantung. Jadi kita bisa dapatkan pasokan crude dari mana saja. Itu tidak menjadi faktor utama, tetapi menjadikan pertimbangan," paparnya.
Perbedaan lainnya, Pertamina berharap ada partner lokal dalam konsorsium untuk NGRR Bontang. Partner untuk NGRR Bontang kemungkinan bukan 1 perusahaan saja, tapi beberapa perusahaan dan ada yang dari dalam negeri.
"Terus faktor investor dalam negeri, dengan adanya tax holiday kemarin harapannya kan ada capital fly back ke Indonesia. Nanti dalam konsorsium itu, pemodal dalam negeri juga diberikan kesempatan supaya mereka berkonsorsium dengan pemodal luar negeri dan sebagainya, dan itu kan akan jadi sindikasi pemodal. Bagaimana nanti responsnya, kalau responsnya beda nanti kami lihat. Tapi kesempatannya kami berikan," ucap Hardadi.
Sampai saat ini belum ada perusahaan dari dalam negeri yang berminat ikut tender, diharapkan ada yang mendaftar pada akhir bulan nanti saat tender dibuka.
"Ini kan belum diekspos. Kalau sudah diekspos kan mereka mendaftar. Jadi akhir Februari kami undang, kami bikin pengumuman terbuka," tukas dia.
Di NGRR Bontang, Pertamina tak menjadi pemegang saham mayoritas. BUMN perminyakan tersebut hanya akan memegang 20-25% saham saja, 75% kepemilikan diserahkan pada partner.
"Di Kilang Bontang mungkin saham Pertamina sekitar 20-25%," Hardadi mengungkapkan.
Nilai investasi untuk pembangunan NGRR Bontang US$ 8 miliar-10 miliar, lebih murah dibanding NGRR Tuban yang mencapai US$ 12 miliar-15 miliar. Sebab, ketersediaan infrastruktur pendukung di Bontang lebih baik dibanding Tuban.
"Estimasi saya sekitar US$ 8 miliar-10 miliar. Kalau NGRR Tuban itu bisa antara US$ 12 miliar-15 miliar. Kenapa begitu? Karena yang di Bontang infrastruktur support-nya sudah ada semua, kalau Tuban kan mulai dari nol, infrastruktur semuanya belum ada," pungkasnya. (mca/hns)











































