Kondisi ini diperparah dengan adanya pemogokan pekerja di smelter (fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral) milik PT Smelting Gresik yang biasanya menyerap 40% produksi konsentrat dari Tambang Grasberg.
Baca juga: Freeport Hadapi Masalah Berat!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terpaksa produksi konsentrat disetop sejak Jumat, 10 Februari 2017 lalu. Kegiatan operasi di Tambang Grasberg kini benar-benar berhenti.
Hari ini, para pekerja tambang Freeport di Mimika, Papua, pun berdemonstrasi karena terancam PHK akibat terhentinya produksi. Mereka meminta pemerintah segera memberikan izin ekspor konsentrat agar tak terjadi PHK.
Foto: Dok. Serikat Pekerja Freeport |
"Apabila pemerintah tidak dapat memberikan izin ekspor konsentrat, maka akan terjadi pengangguran besar-besaran. Ribuan karyawan akan kehilangan pekerjaan dan kembali menganggur, serta keluarga dan anak-anak kehilangan masa depan," jelas Solidaritas Karyawan PT Freeport Indonesia yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Peduli Freeport (GSPF) melalui keterangan tertulis kepada media, Jumat (17/2/2017).
Serikat Pekerja Freeport juga menyatakan bahwa gangguan terhadap kegiatan operasional Freeport akan berdampak langsung pada masyarakat di Kabupaten Mimika.
"Karena Kabupaten Mimika saat ini memiliki kebergantungan sangat tinggi kepada kegiatan operasional PT Freeport Indonesia," paparnya.
Foto: Dok. Serikat Pekerja Freeport |
Jika izin ekspor konsentrat tidak diberikan dalam waktu 7 hari ke depan, para pekerja Freeport mengancam akan menutup semua kantor pemerintahan di Kabupaten Mimika, termasuk bandara dan pelabuhan.
"Kami akan blok semua pusat administrasi pemerintahan di Mimika, termasuk bandara dan pelabuhan," tutupnya.
Foto: Dok. Serikat Pekerja Freeport |












































Foto: Dok. Serikat Pekerja Freeport
Foto: Dok. Serikat Pekerja Freeport
Foto: Dok. Serikat Pekerja Freeport