Kumpulkan Bos Migas, Jonan Cari Cara Agar Produksi Minyak Tak Anjlok

Kumpulkan Bos Migas, Jonan Cari Cara Agar Produksi Minyak Tak Anjlok

Eduardo Hasian Simorangkir - detikFinance
Jumat, 17 Feb 2017 13:51 WIB
Kumpulkan Bos Migas, Jonan Cari Cara Agar Produksi Minyak Tak Anjlok
Foto: Michael Agustinus/detikFinance
Jakarta - Menteri ESDM, Ignasius Jonan bersama dengan Wakil Menteri, Arcandra Tahar hari ini mengadakan rapat bersama sejumlah perwakilan dari perusahaan hulu migas yang menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar mengatakan, rapat tersebut membahas bagaimana upaya pemerintah menjaga produksi minyak Indonesia selama lima tahun mendatang agar tidak turun, dan paling tidak bisa menjaga produksinya tetap di angka yang sama seperti hari ini, yakni 800.000 barel per hari (bph).

Namun demikian, produksi minyak Indonesia semakin hari semakin turun menyusul semakin sedikitnya sumber cadangan migas yang ada saat ini, sementara eksplorasi untuk menemukan cadangan baru sampai tahap produksi memerlukan waktu hingga 16 tahun lamanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Produksi minyak kita itu makin hari makin turun. Jadi harus ada cara menaikkannya," kata Arcandra saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/2/2017).

Arcandra mengatakan, pemerintah perlu melakukan terobosan agar lifting minyak Indonesia bisa bertahan di angka 800.000 bph setidaknya hingga 5 tahun mendatang.

Ia berujar, dalam rapat tadi telah diambil kesimpulan, bahwa pemerintah akan melakukan kebijakan baru berupa pencarian sumber minyak baru di wilayah kerja migas eksisting, agar paling tidak bisa mempertahankan jumlah minyak hingga lima tahun mendatang.

"Pemerintah sekarang maunya produksinya naik. Dalam lima tahun ini produksi kita yang 800 ribu barel per hari tidak boleh turun. Dari rencana yang ada, ini turun terus. Declining rate kita sekitar 11% per tahun dari 2017 sampai 2021. Artinya kalau seperti ini, enggak perlu ada kita di sini. Yang kita rencanakan, bisa enggak kita bikin sama? Kalau naik? Oh berat. Tapi at least kita bisa bertahan di 800 ribu barel per hari," tutur Arcandra.

Pria asal Sumatera Barat ini mengatakan, pemerintah akan melakukan sebuah short term program dalam jangka lima tahun mendatang. Melalui program ini, pemerintah akan mengupayakan lifting minyak berada di angka 800 barel per hari.

Melalui program ini, pemerintah akan melakukan pemanfaatan teknologi untuk melaksanakan penemuan cadangan minyak baru selama 5 tahun.

"Ini dinamakan short term program. Itu yang tadi kita bicarakan. Kita mau lifting tetap di atas 800 ribu bph. Untuk itu perlu kerjasama, baik dari ESDM, SKK migas, dan KKKKS. Karena eksekutornya KKKS," tutur dia.

Cara paling awal adalah dengan mengidentifikasi jenis teknologi apa yang tersedia untuk bisa melalukan program tersebut. Selain itu dalam tahap ini perlu ditentukan apakah teknologi ini bisa cocok di lapangan-lapangan migas yang ada di Indonesia. Termasuk komersialnya, agar biaya produksinya tidak lebih mahal dari pendapatan yang diterima.

Setelah itu, akan dilakukan workshop dengan seluruh KKKS, untuk menentukan bagaimana implementasi program tersebut di lapangan hingga akhirnya dieksekusi.

"Jadi apa itu programnya, bagaimana pengimplementasiannya, kemudian kapan. Dalam waktu 5 tahun ini semua mereka bikin. Dan ini yang akan kita kerjakan dalam bulan-bulan ini," tambahnya.

Jika tak melakukan cara ini, Arcandra mengatakan produksi minyak Indonesia bisa anjlok hingga di bawah 600 ribu barel per hari.

"Dengan program ini, estimasi produksi kita 695 sampai 840 barel per hari sampai 2021. Kalau tanpa program ini, national decline-nya, tahun 2021 bisa di bawah 600 ribu dalam 5 tahun. Jauh di bawah itu," pungkasnya. (mca/mca)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads