Kedatangan Raja Salman ini berdekatan dengan Project Expose (penawaran proyek) Grass Root Refinery (GRR) Bontang yang dilakukan pada 28 Februari 2017. Pertamina sedang mencari mitra strategis untuk pembangunan GRR Bontang.
Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi, menyatakan proyek Kilang Bontang terbuka untuk semua pihak, tak terkecuali Arab Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami kan project expose cari partner, tentu dibuka seluas-luasnya. Dari partisipan yang masuk akan kami saring. Kaitannya dengan Raja Salman, semua kami berikan kesempatan. Apakah Saudi Aramco, PTT, Sinopec, nanti kami pilah," kata Hardadi dalam konferensi pers di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (24/2/2017).
Kunjungan Raja Salman ke Indonesia ini merupakan kunjungan yang sangat bersejarah, karena terakhir kali ke Indonesia, terjadi pada tahun 1970, atau 47 tahun yang lalu. Hardadi berharap akan ada kesepakatan yang menguntungkan kedua negara dalam kunjungan ini, khususnya di sektor energi.
"Ini kunjungan yang sangat bagus, terakhir Raja Arab kunjungan ke RI 47 tahun lalu. Hubungan Presiden kita dengan Raja Salman luar biasa. Pendekatan yang dilakukan Presiden kita betul-betul berhasil dengan sangat cantik sampai kuota haji bertambah. Dalam kunjungan ini tentu upaya sinergi jadi pembicaraan yang sangat baik," ucap Hardadi.
Selain ditawarkan ke Saudi Aramco, proyek Kilang Bontang juga akan ditawarkan ke BUMN perminyakan Iran, National Iranian Oil Company (NIOC). Akhir bulan ini, delegasi Kementerian ESDM yang dipimpin Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, akan ke Iran, Pertamina ikut serta dalam rombongan.
Agenda utama kunjungan ke Iran adalah kerja sama pengelolaan 2 lapangan minyak di sana. Tetapi jika Iran berminat, tak tertutup kemungkinan ada penjajakan proyek Kilang Bontang.
"Ke Iran lebih spesifik soal penyerahan pengelolaan 2 blok migas. Tapi semua penjajakan dilakukan. Ini kunjungan saya yang ketiga ke Iran. Iran sebenarnya berminat memasok minyak ke Indonesia. Komposisi minyak dari Iran hampir sama dengan dari Arab Saudi, hanya kandungan sulfurnya lebih tinggi. Kalau mereka berminat membangun kilang, nanti dijajaki," pungkasnya. (mca/wdl)











































