Tender untuk mencari mitra strategis di proyek GRR Bontang sedikit berbeda dari GRR Tuban. Dalam tender kali ini, syarat untuk strategic partner tak seberat di proyek GRR Tuban.
"Kalau di Kilang Tuban, dipersyaratkan mitra sudah pernah membangun kilang sejenis dengan kapasitas sama, punya pengalaman membangun kilang di luar negeri, punya pasokan crude hingga 50 tahun ke depan, permodalan kuat, reputasi baik, banyak sekali syaratnya," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi, dalam konferensi pers di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (24/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hardadi menjelaskan, ternyata lebih efisien jika pasokan minyak mentah untuk kilang terbuka dari mana saja, tidak hanya dari mitra strategis. Itulah sebabnya Pertamina tak lagi mencari partner yang punya pasokan crude untuk jangka panjang.
"Mengacu pada pengalaman RDMP Cilacap dan RDMP Balikpapan, pada akhirnya ternyata kemudahan mendapat pasokan crude justru nilai optimasinya di sana. Pemilihan jenis crude berapa besar dan kapan harus didatangkan jadi titik optimasi krusial. Crude ini mudah didapat selama kita punya modal untuk belanjanya," tuturnya.
Perbedaan lainnya, Pertamina berharap ada partner lokal dalam konsorsium untuk NGRR Bontang. Partner untuk NGRR Bontang kemungkinan bukan 1 perusahaan saja, tapi beberapa perusahaan dan ada yang dari dalam negeri.
Kesempatan bagi investor dari dalam negeri terbuka lebar karena persyaratan kemampuan modal dan pengalaman di tender GRR Bontang tak seberat di GRR Tuban. Bisa saja perusahaan dalam negeri menggandeng perusahaan-perusahaan asing dan membentuk konsorsium untuk menjadi mitra strategis Pertamina.
"Kalau di GRR Tuban kesempatan untuk investor dalam negeri agak terbatas, kalau GRR Bontang berbeda. Investasi dalam negeri punya kesempatan lebih besar untuk ikut berkontribusi di sini. Aspek TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) juga lebih kami perhatikan," tukasnya.
Di GRR Bontang, Pertamina tak menjadi pemegang saham mayoritas. BUMN perminyakan tersebut hanya akan memegang 20-25% saham saja, 75% kepemilikan diserahkan pada strategic partner. "Di Kilang Bontang mungkin saham Pertamina sekitar 20-25%," kata Hardadi.
Nilai investasi untuk pembangunan NGRR Bontang US$ 8-10 miliar, lebih murah dibanding NGRR Tuban yang mencapai US$ 12-15 miliar. Sebab, ketersediaan infrastruktur pendukung di Bontang lebih baik dibanding Tuban. (mca/mkj)











































