"GRR Bontang memang lebih murah US$ 3 miliar, banyak itu, karena fasilitasnya enggak perlu bangun lagi, supporting facility-nya seperti pemukiman, terus bandara, tempat ibadah, sekolahan, enggak perlu bangun lagi," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi, dalam konferensi pers di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (24/2/2017).
Total nilai investasi untuk GRR Bontang yang berkapasitas 300.000 barel ber hari (bph) diperkirakan sebesar US$ 8-10 miliar, sedangkan GRR Tuban US$ 12-15 miliar dengan kapasitas sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, di Bontang sudah ada Kilang Liquid Natural Gas (LNG) milik PT Badak NGL, salah satu anak usaha Pertamina. Ada berbagai fasilitas yang bisa dimanfaatkan juga untuk GRR Bontang. Mulai dari power generator, bandara, pemukiman, rumah sakit, jetty, dan sebagainya.
"Pada 2022, Kilang LNG Bontang itu dr 8 train akan beroperasi hanya 1,5 train. Padahal ada boiler, pembangkit sangat idle, fasilitasnya sangat bagus untuk infrastruktur yang lain. Kalau bangun kilang di sana bukan mulai dari nol. Listriknya sudah ada, nitrogen interkoneksi, steam, power generator, pemukiman, rumah sakit, bandara, enggak perlu bangun lagi," paparnya.
Lahan untuk GRR Bontang juga sangat luas, ada 460 hektar (ha) tanah berstatus Barang Milik Negara (BMN) yang bisa dipakai. GRR Bontang bahkan masih bisa diperluas lagi hingga 650 ha. "Ada 460 ha dan bisa dikembangkan sampai 650 ha yang lahannya berstatus BMN," Hardadi menuturkan.
Sampai hari ini sekitar 50 perusahaan telah menyatakan minatnya untuk mengambil bagian dalam Project Expose (penawaran proyek) GRR Bontang yang akan dilaksanakan pada 28 Februari mendatang.
Pertamina telah mengumumkan sekaligus mengundang perusahaan-perusahaan yang memiliki kompetensi untuk menjadi mitra strategis dalam pelaksanaan megaproyek GRR Bontang, baik dari refiner, trading company, maupun institusi finansial.
Terdapat empat karakteristik utama calon mitra yang dikehendaki Pertamina, yaitu memiliki rekam jejak yang kuat pada industri pengolahan minyak utamanya keandalan operasional dan eksekusi proyek, dapat menyesuaikan dengan struktur dan model bisnis yang dikehendaki Pertamina, memiliki keinginan kuat untuk percepatan proyek dan menyelesaikannya pada 2023, dan memberikan nilai menarik bagi proyek GRR Bontang. (mca/dna)











































