Follow detikFinance
Kamis 02 Mar 2017, 12:35 WIB

Jonan: Bisnis Penerbangan Lebih Berisiko Dibanding Panas Bumi

Michael Agustinus - detikFinance
Jonan: Bisnis Penerbangan Lebih Berisiko Dibanding Panas Bumi Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Dalam pidatonya pagi ini saat membuka Diskusi Strategi Pencapaian Target Energi Baru Terbarukan 23% di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Menteri ESDM Ignasius Jonan menuturkan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memerintahkan agar potensi energi panas bumi di Indonesia digenjot.

Dari total potensi panas bumi di seluruh Indonesia yang mencapai 29.000 MW, baru 1.400 MW atau 0,5% saja yang sudah dimanfaatkan. Salah satu kendala yang disebut-sebut menghambat pengembangan panas bumi adalah risikonya yang tinggi dan biaya investasinya yang mahal.

Mirip dengan bisnis minyak dan gas bumi (migas), pengembang panas bumi bisa kehilangan jutaan dolar jika eksplorasi gagal menemukan uap panas bumi. Tetapi jika pengeboran berhasil menemukan cadangan panas bumi, risiko yang dihadapi sesudah itu relatif kecil.

"Eksplorasi panas bumi mirip-mirip migas, kalau gagal hilang jutaan dolar. Risikonya besar, tapi once you get, bikin kontrak dengan PLN," kata Jonan.

Tapi meski berisiko besar, Jonan meminta para pengusaha panas bumi dan energi baru terbarukan (EBT) lainnya tak membesar-besarkan masalah itu. Menurutnya, masih banyak bisnis lain yang lebih berisiko dan para pelaku bisnisnya tak ribut soal risiko itu, misalnya bisnis penerbangan.

Jonan menuturkan, Air Asia rugi sangat besar ketika salah satu pesawatnya jatuh di Selat Karimata dan menewaskan seluruh awak maupun penumpang. Kerugian itu terus berlanjut karena penjualan tiket jatuh sampai 24%. Sampai hari ini, Air Asia belum bisa benar-benar bangkit setelah kecelakaan di Selat Karimata akhir 2015.

"Kalau Bapak bilang bisnis EBT risikonya besar, maskapai penerbangan jauh lebih besar. AirAsia pesawatnya jatuh di Selat Karimata, load factor jatuh 24% dan sampai hari ini tidak bangkit. Risiko bisnis harus dihadapi, kita yang fair saja," ungkapnya.

Ia menambahkan, laba yang diperoleh maskapai-maskapai penerbangan relatif kecil meski bisnisnya berisiko tinggi. Setelah dipotong pajak, keuntungan yang didapat maskapai penerbangan tak lebih dari 5%. Biaya investasinya juga besar untuk membeli pesawat-pesawat baru, yang belum tentu bakal mendapatkan pasar.

Maksud Jonan, pengusaha EBT jangan terlalu banyak mengeluhkan risiko dan meminta insentif-insentif atau Feed in Tariff tinggi dengan alasan biaya investasi dan risiko besar. Banyak bisnis lain yang juga berisiko tinggi, butuh modal investasi besar, tapi tidak mengeluh dan menuntut berbagai insentif dari pemerintah.

"Masakapai penerbangan, itu net margin 5% sebelum pajak, setelah pajak cuma sekitar 3%, tidak mungkin bisa lebih dari itu. Makanya untuk menaikkan net margin 1% saja, mereka jualan arloji, boneka di pesawat. Kalau maskapai beli pesawat baru, tahu enggak nanti berapa yang naik? Enggak ada yang tahu, Pak," ujar Jonan.

Lagipula, kata Jonan lagi, risiko besar di bisnis panas bumi dan EBT pada umumnya hanya di awal saja. Misalnya untuk panas bumi, risiko terbesarnya saat eksplorasi. Setelah menjual listrik ke PLN, pengusaha EBT hanya menghadapi risiko yang kecil. Beda misalnya dengan bisnis hotel, yang risikonya seumur operasi hotel itu.

"Risikonya kan di awal, tapi setelah itu hampir enggak ada risiko. Kalau bikin hotel, risikonya seumur hotel dioperasikan. Hari ini ada yang sewa, besok enggak ada, pusing enggak? Pasti lebih pusing," tutupnya. (mca/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed