Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 13 Mar 2017 14:25 WIB

Arcandra: Jangan Takut Pasang Konverter Kit di Mobil, Enggak Meledak

Michael Agustinus - detikFinance
Foto: Dok PGN Foto: Dok PGN
Jakarta - Pemerintah terus mendorong pemanfaatan gas bumi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak. Salah satunya untuk sektor transportasi.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menjelaskan bahwa pemerintah fokus mendorong konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) untuk transportasi karena di sektor inilah konsumsi BBM paling tinggi.

Apalagi pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia tinggi sekali, mencapai 13% per tahun ketika pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%. Artinya, pertambahan jumlah mobil dan motor hampir 3 kali lipat pertumbuhan ekonomi nasional.

Maka Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan Mobile Refueling Unit (MRU) diperbanyak, kendaraan-kendaraan umum dan kendaraan dinas dipasangi konverter kit supaya memakai gas.

Tapi masih banyak pemilik mobil pribadi yang enggan memasang konverter kit karena khawatir alat tersebut meledak. Terkait hal ini, Arcandra meyakinkan bahwa konverter kit aman, safety terjamin, tidak akan meledak. Buktinya, sampai sekarang tidak ada kasus konverter kit meledak.

"Ada data enggak mobil yang sudah pakai tabung konverter kit, meledak tabungnya? Enggak ada. Insya Allah safe. Persyaratan dari segi safety jadi perhatian kita semua," kata Arcandra saat ditemui di Lapangan IRTI Monas, Jakarta, Senin (12/3/2017).

Selain itu, banyak juga yang tak mau beralih ke BBG dengan alasan mahalnya biaya pemasangan konverter kit. Pemilik mobil pribadi memang harus mengeluarkan uang Rp 26 juta untuk memasang konverter kit supaya mobilnya bisa menggunakan BBG. Tapi menurut Arcandra, biaya itu tak seberapa dibanding manfaatnya.

Dalam sebulan, pengguna BBG bisa memperoleh penghematan Rp 3 juta. Maka dalam 9 bulan, efisiensi yang diperoleh sudah sebanding dengan biaya pemasangan konverter kit. Setelah itu efisiensinya makin besar lagi.

"Manfaatnya, kita punya mobil misalnya berjalan sehari 180 km. Dalam sebulan misalnya jalan 26 hari. Manfaatnya secara ekonomi Rp 3 juta per bulan. Sementara beli konverter kit Rp 26 juta, berarti kurang dari 9 bulan sudah balik modal. Setelah itu tinggal untungnya saja," ucap Arcandra.

Selain lebih efisien, gas bumi juga tergolong sebagai energi yang ramah lingkungan. Tidak menimbulkan banyak polusi seperti BBM. "Dari segi lingkungan, gas lebih ramah lingkungan. Kita komitmen, sudah tanda tangan di COP 21, mengurangi emisi gas buang," paparnya.

Sementara itu, Direktur Komersial PGN, Danny Praditya, mengungkapkan bahwa penjualan BBG di 10 SPBG dan 5 MRU milik PGN sekarang mencapai 7,5 juta liter setara premium (lsp) setiap tahun. Selain itu, PGN juga menyuplai BBG sebesar 3 juta lsp ke SPBG Pertamina.

Jika dirata-rata, BBG dari PGN mampu mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) hingga 5 juta liter per bulan. "Penjualan kita sekitar 7,5 juta lsp per tahun, ditambah kita suplai juga ke SPBG milik teman-teman kita Pertamina sekitar 3 juta lsp per bulan. Kira-kira impor BBM berkurang 4-5 juta liter per bulan," ujar Danny.

PGN berkomitmen untuk terus memasyarakatkan gas bumi. Dengan berkurangnya impor BBM, beban subsidi yang harus ditanggung negara makin ringan, cadangan devisa pun tak terkuras. (mca/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed