Sudah Ada Listrik, Anak-Anak Desa Tengah Laut Ini Tak Lagi Kesulitan Belajar

Sudah Ada Listrik, Anak-Anak Desa Tengah Laut Ini Tak Lagi Kesulitan Belajar

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jumat, 31 Mar 2017 08:36 WIB
Sudah Ada Listrik, Anak-Anak Desa Tengah Laut Ini Tak Lagi Kesulitan Belajar
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Belitung - Masih banyak desa pelosok di Indonesia, yang belum merasakan kehadiran listrik seutuhnya. Akibatnya, banyak hal yang belum didapatkan masyarakat secara maksimal, seperti di Desa Pulau Sumedang, Belitung, yang berada di tengah laut contohnya.

Selama ini, desa yang telah berdiri sejak sekitar tahun 1980 itu, penduduk setempat hanya mengandalkan genset dengan biaya yang tidak murah.

Muchlis, salah seorang warga Desa Pulau Sumedang mengatakan, selama ini ada banyak sekali kesulitan warga desa akibat tidak adanya listrik, terutama masalah penerangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena masalah penerangan tersebut, masalah lain pun ikut muncul. Salah satu yang cukup dirasakan dengan sulitnya penerangan ialah kesulitan belajar bagi anak-anak desa.

Selama ini, kata Muchlis, untuk belajar di malam hari, anak-anak biasanya hanya mengandalkan penerangan menggunakan lampu 'cabe' yang berukurang sangat kecil, dan tidak terang.

"Belajar Itu sangat kesusahan. Kadang bahkan tidak belajar, terutama untuk masyarakat yang enggak bisa nyambung listrik ke genset. Jadi kondisinya begitu, paling hanya pakai lampu cabe saja yang kecil-kecil itu, itu kan enggak terang. Dan bikin mata sakit," kata Muchlis kepada detikFinance di lokasi, Belitung, Kamis (30/3/2017).

"Kasihan anak-anak, jadi memang dipaksakan. Karena sulitnya membaca atau menulis di setiap malam. Tapi mau bagaimana lagi, keadaannya seperti itu," sambungnya.

Sudah Ada Listrik, Anak-Anak Desa Tengah Laut Ini Tak Lagi Kesulitan BelajarFoto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance

Namun, kini setelah PT PLN (Persero) telah mendistribusikan listrik ke desa tersebut pada bulan Desember 2016 lalu, anak-anak sudah lagi kesulitan untuk belajar setiap malamnya.

"Sekarang sudah tenang, walau pun baru 12 jam ada listrik, tapi kita bahagia. Anak-anak bisa mudah belajar di malam hari, tidak sakit matanya, orang tua juga senang anaknya bisa terus belajar," tutur Muchlis. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads