Selama ini, desa yang telah berdiri sejak sekitar tahun 1980 itu, penduduk setempat hanya mengandalkan genset dengan biaya yang tidak murah.
Muchlis, salah seorang warga Desa Pulau Sumedang mengatakan, selama ini ada banyak sekali kesulitan warga desa akibat tidak adanya listrik, terutama masalah penerangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, kata Muchlis, untuk belajar di malam hari, anak-anak biasanya hanya mengandalkan penerangan menggunakan lampu 'cabe' yang berukurang sangat kecil, dan tidak terang.
"Belajar Itu sangat kesusahan. Kadang bahkan tidak belajar, terutama untuk masyarakat yang enggak bisa nyambung listrik ke genset. Jadi kondisinya begitu, paling hanya pakai lampu cabe saja yang kecil-kecil itu, itu kan enggak terang. Dan bikin mata sakit," kata Muchlis kepada detikFinance di lokasi, Belitung, Kamis (30/3/2017).
"Kasihan anak-anak, jadi memang dipaksakan. Karena sulitnya membaca atau menulis di setiap malam. Tapi mau bagaimana lagi, keadaannya seperti itu," sambungnya.
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance |
Namun, kini setelah PT PLN (Persero) telah mendistribusikan listrik ke desa tersebut pada bulan Desember 2016 lalu, anak-anak sudah lagi kesulitan untuk belajar setiap malamnya.
"Sekarang sudah tenang, walau pun baru 12 jam ada listrik, tapi kita bahagia. Anak-anak bisa mudah belajar di malam hari, tidak sakit matanya, orang tua juga senang anaknya bisa terus belajar," tutur Muchlis. (ang/ang)











































Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance