Hal ini disampaikan oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan, saat mengunjungi Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Sarulla di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (31/3/2017).
"Saya ingin daerah memanfaatkan energi primer yang dimilikinya. Sehingga daerah tersebut bisa mendapatkan listrik," ujar Jonan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Penampakan Ladang 'Harta Karun Energi' Terbesar Dunia di Sumut
"Saya ingin Sarulla dikembangkan hingga 1.000 MW. Daripada harus kirim gas Tangguh (Papua) ke Arun di Aceh, lalu diregasifikasi lagi dan dikirim ke Belawan (Medan). Bayangkan kalau kita naik pesawat dari Bintuni ke Medan saja bisa 7 jam," ujar Jonan.
Pengembangan panas bumi di Sumatera Utara ini sejalan dengan target pemerintah Indonesia mengembangkan energi terbarukan. Di 2025 nanti, bauran energi terbarukan ditargetkan mencapai 23% dari seluruh total energi yang digunakan di dalam negeri.
Sebagai informasi, sumur panas bumi tersebut memiliki potensi listrik 1.000 MW lebih, namun yang tergarap baru 110 MW melalui PLTP Sarulla. PLTP Sarulla berada dalam WKP (wilayah kerja pertambangan) Gunung Sibual-buali.
Proyek PLTP Sarulla dikembangkan lewat skema Kontrak Operasi Bersama antara PT Pertamina Geothermal Energy dengan Sarulla Operations Ltd (SOL). SOL merupakan konsorsium dari PT Medco Power Indonesia, Itochu Corporation (Jepang), Kyushu Electric Power Co,Inc (Jepang), dan Ormat International, Inc (Amerika Serikat).
PLTP Sarulla dikembangkan di dua lokasi, yaitu di proyek Silagkitang dengan kapasitas pengembangan sebesar 1x110 mw (unit 1) dan proyek Namora-I-Langit, dengan kapasitas pengembangan sebesar 2x110 mw (unit 2 dan 3).
PLTP Sarulla unit 1 telah beroperasi (Commercial Operation Date/COD) pada 18 Maret 2017. Sedangkan untuk unit 2 dan 3 direncanakan COD pada 23 November 2017 dan 23 Mei 2018.
Rencananya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan meresmikan PLTP Sarulla 110 mw ini. (wdl/mca)











































