Follow detikFinance
Selasa 04 Apr 2017, 07:09 WIB

Demi Gas Murah, PLN Mau Bangun Terminal LNG di Arun

Michael Agustinus - detikFinance
Demi Gas Murah, PLN Mau Bangun Terminal LNG di Arun Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Dalam kunjungannya ke Medan pada akhir pekan lalu, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, menyoroti mahalnya biaya distribusi gas ke pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) di Belawan.

Akibat mahalnya biaya distribusi ini, PLTGU Belawan tak bisa beroperasi dengan efisien. Biaya produksi listrik jadi mahal, tarif untuk masyarakat jadi susah diturunkan.

Direktur Bisnis Regional Sumatera PLN, Amir Rosidin, mengungkapkan ada sejumlah komponen biaya yang dibebankan sehingga harga gas menjadi mahal begitu sampai di PLTGU Belawan.

Mulai dari biaya angkut LNG dengan kapal, ongkos regasifikasi di Terminal LNG Arun, toll fee di pipa transmisi ruas Arun-Belawan, dan sebagainya. Totalnya sampai lebih dari US$ 4/MMBtu.

Gas untuk PLTGU Belawan berasal dari Tangguh di Papua, setelah diproses jadi LNG harganya sekitar US$ 6/MMBtu. LNG dikapalkan dengan biaya US$ 0,6/MMBtu. Sampai di Terminal Penerimaan dan Regasifikasi LNG Arun, LNG diregasifikasi dengan biaya US$ 1,56/MMBtu.

Kemudian gas dialirkan ke PLTG Belawan melalui pipa transmisi Arun-Belawan yang mengenakan toll fee sebesar US$ 2,53/MSCF. Total biaya pengapalan, regasifikasi, dan transmisi sudah US$ 4,63/MMBtu. Harga gas jadi di atas US$ 10/MMBtu begitu sampai di PLTG Belawan.

"Ada biaya pengolahan dari gas jadi LNG, US$ 1,56/MMBtu untuk regasifikasi, biaya transportasi US$ 2,53/MMBtu. Jadi jatuhnya sudah di atas US$ 4/MMBtu. Pak Menteri (Jonan) melihat ini mahal banget," kata Amir kepada detikFinance, Selasa (3/4/2017).

Demi Gas Murah, PLN Akan Bangun Terminal LNG di ArunFoto: Wahyu Daniel


Jonan telah meminta agar biaya-biaya di Terminal Penerimaan dan Regasifikasi LNG Arun serta Pipa Transmisi Arun-Belawan dihitung ulang, tarifnya harus wajar. Jangan membebankan perhitungan-perhitungan yang kelewat mahal pada PLN.

"Pak Menteri sudah minta ke Pertagas untuk dihitung ulang lagi. Misalnya depresiasi pipa, jangan pendek-pendek, harus diperpanjang sampai seumur pipa kira-kira 25-30 tahun. Jadi biaya distribusinya bisa US$ 2/MMBtu saja, enggak US$ 4/MMBtu lebih," tukas Amir.

Mahalnya biaya distribusi gas ini mendorong PLN untuk membangun fasilitas penerimaan dan regasifikasi LNG sendiri. Menurut perhitungan Amir, PLN bisa hemat Rp 2-3 triliun per tahun kalau memiliki fasilitas sendiri.

Biaya distribusi gas yang sekarang di atas US$ 4/MMBtu bisa dipangkas hingga separuhnya saja, menjadi sekitar US$ 2/MMBtu. Jonan pun memberi lampu hijau pada PLN kalau itu bisa membuat biaya pokok penyediaan (BPP) listrik lebih efisien.

"Kalau PLN bangun fasilitas sendiri bisa jauh lebih murah, biaya distribusi gas bisa US$ 2/MMBtu. Penghematannya Rp 2-3 triliun per tahun," papar Amir.

Rencananya, fasilitas yang dibangun PLN ini tak hanya memasok gas ke PLTGU Belawan saja. Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) Arun yang berkapasitas 184 MW dan PLTG Arun Ekspansi 250 MW juga akan mendapat gas dari fasilitas yang sama.

Investasi untuk membangun fasilitas penerimaan dan regasifikasi LNG, menurut Amir, tidak akan menimbulkan inefisiensi. Sebab, manfaatnya banyak, bukan hanya untuk 1 pembangkit saja, tapi buat setidaknya 3 pembangkit dengan total daya lebih dari 700 MW. Sangat vital untuk menerangi Sumatera Utara.

"Jadi tidak mubazir. Ada 3 pembangkit, di Arun kira-kira 430 MW dan PLTGU Belawan. Jadi gasnya bisa dipakai ke situ juga," tutupnya. (mca/wdl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed