SVP Integrated Supply Chain (ISC) PT Pertamina (Persero), Daniel Purba, mengungkapkan ada peningkatan impor Pertamax sekitar 3 kali lipat, dari 2015 ke 2016. Sementara jika membandingkan impor 2015 dengan proyeksi impor 2017, maka kenaikan impornya bisa mencapai lebih 4 kali lipat.
Data ISC Pertamina, impor Pertamax pada 2014 hanya sebesar 2 juta barel, meningkat menjadi 8 juta barel di 2015. Lonjakan paling besar terjadi di 2016 dengan impor Pertamax sebesar 25 juta barel. Sementara untuk proyeksi impor Pertamax di 2017 yakni sebesar 36 juta barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, lonjakan impor tersebut tentunya diikuti dengan menurunnya volume impor dari produk Premium, di mana impornya berturut-turut pada 2014 sebesar 116,3 juta barel, di 2015 sebesar 102,6 juta barel, dan 2016 sebesar 73,7 juta barel. Sementara untuk proyeksi impor Premium di 2017 adalah 62 juta barel.
"Jadi memang impor Pertamax naik 11 juta barel dari 2016 ke 2017, tapi ini seimbang dengan penurunan impor Premium yang juga turun 11 juta barel," terang Daniel.
Selain kenaikan yang terjadi pada impor produk Pertamax, hal lain yang perlu dicermati yakni kenaikan impor elpiji. Proyeksi impor elpiji oleh Pertamina di tahun ini sebesar 4,95 juta ton, naik dari impor di 2016 sebesar 4,4 juta ton. Sementara impor di 2014 sebesar 4,18 juta ton.
"Kenapa impor elpiji meningkat? Karena konversi minyak tanah ke gas sudah semakin meluas, kemudian memang karena permintaan dari elpiji ini juga terus meningkat," pungkas Daniel.
Dari mana negara asal impor Pertamax, Premium, dan elpiji ini? Daniel tidak mau menjawab. (idr/wdl)











































