Follow detikFinance
Kamis 13 Apr 2017, 15:17 WIB

Subsidi Elpiji 3 Kg Berpotensi Bengkak Rp 10 T, Ini Kata Sri Mulyani

Michael Agustinus - detikFinance
Subsidi Elpiji 3 Kg Berpotensi Bengkak Rp 10 T, Ini Kata Sri Mulyani Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Baru-baru ini, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, mengungkapkan subsidi elpiji 3 kg berpotensi bengkak menjadi Rp 30 triliun, sementara dana yang dialokasikan di APBN 2017 hanya Rp 20 triliun. Pembengkakan Rp 10 triliun ini, terutama karena subsidi kurang tepat sasaran, banyak elpiji 3 kg yang dikonsumsi oleh masyarakat mampu.

Terkait hal ini, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan pihaknya telah membuat berbagai perhitungan apabila asumsi-asumsi yang ditetapkan dalam APBN untuk subsidi-subsidi energi, termasuk elpiji 3 kg, ternyata tak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Perubahan anggaran tentu harus dibicarakan dengan DPR karena APBN ditetapkan dalam bentuk Undang-Undang (UU). Hal ini bakal masuk dalam pembahasan APBN-Perubahan (APBN-P) 2017.

"Kemarin kita juga membuat beberapa kalkulasi apabila jumlah dari penggunanya (elpiji 3 kg) atau harga minyak di luar tidak sesuai dengan asumsi-asumsi. Nanti kita lihat di dalam APBN-P," kata Sri Mulyani, saat ditemui di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (13/4/2017).

Bukan hanya subsidi elpiji 3 kg saja, subsidi listrik 450 VA juga kemungkinan harus direvisi. Sebab, APBN 2017 hanya menyiapkan subsidi untuk 19 juta pelanggan karena ada 4 juta pelanggan yang sebenarnya tidak berhak menerimanya. Tapi ternyata subsidi untuk 4 juta pelanggan 450 VA itu belum dicabut.

"Dalam APBN 2017 kan sudah ditetapkan oleh DPR dalam bentuk UU, untuk beberapa subsidi kan dasar perhitunganya didasarkan kepada kalkulasi seperti elpiji 3 kg itu jumlah rumah tangga yang mendapatkannya. 450 VA untuk listrik itu juga jumlahnya diturunkan kalau nggak salah dari 23 juta pelanggan, harusnya turun menjadi 19 juta," paparnya.

Begitu juga subsidi solar dan listrik 900 VA. Semuanya perlu penyesuaian asumsi-asumsi seperti jumlah penerima, harga minyak, dan sebagainya.

"Kemudian untuk solar maupun untuk 900 VA. Semua sudah ada di UU APBN kalkulasinya. Jadi kalau realisasinya tidak sesuai, tentu saja akan menyebabkan jumlah yang harus disediakan oleh APBN menjadi berubah, entah itu karena harga minyak, karena kan harga minyak diasumsikan US$ 45/barel, kalau harganya menjadi US$ 50/barel maka itu kalkulasi subsidi untuk solar juga akan berubah," tutupnya. (mca/wdl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed