Penurunan harga ini terjadi karena ada pemangkasan biaya di hulu, transmisi, dan distribusi dengan sinergi PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).
"Ternyata bisa ya turun harga gas yang tadinya US$ 13/MMBtu jadi US$ 9/MMBtu. Dulunya sebelum US$ 13/MMBtu memang harganya US$ 9/MMBtu, tapi karena pasokan mulai menurun akhirnya dipilih pasokan alternatif dengan menggunakan LNG (Liquefied Natural Gas)," ujar Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN Dilo Seno Widagdo di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis (27/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian kita duduk sama-sama difasilitasi Kementerian ESDM, untuk membuat perhitungan infrastruktur cost. Memang akhirnya masing-masing diminta berkorban," tutur Dilo.
Pasalnya lebih banyak konsumen rumah tangga yang memanfaatkan gas sebagai sumber energi dibandingkan industri. Sehingga penurunan harga gas dinilai perlu dilakukan.
"Ini bisa terjadi karena kita sadar yang kita layani bukan segmen yang memiliki tingkat perekonomian, tapi juga segmen yang membutuhkan cross subsidi. Pertamina dan PGN selain sinergi, juga sepakat melakukan pemotongan atau cross subsidi untuk wilayah Sumatera Utara," tutur Dilo. (dna/dna)











































