Desa Oi Panihi terletak di Dusun Doro Mbolo. Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima. Desa ini dapat dijangkau lewat perjalanan darat selama 5 jam dengan mobil dari pusat Kabupaten Bima.
Jalanan menuju ke sana berbukit-bukit, sudah diaspal, tetapi beberapa bagian sudah rusak, berlubang-lubang. Banyak jalan amblas, beberapa jembatan putus. Tanah di sekitar Gunung Tambora memang mudah amblas saat musim hujan karena sebagian besar strukturnya pasir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) senilai Rp 6,4 miliar dengan kapasitas 100 Kilowatt (KW) dibangun oleh Kementerian ESDM untuk para penduduk Desa Oi Panihi. Dananya dari APBN 2016. Pembangunan PLTMH memakan waktu kurang lebih setahun, mulai beroperasi sejak 13 Januari 2017.
Warga Desa Oi Panihi, Sahruddin, menuturkan bahwa sebelum adanya PLTMH, hanya beberapa rumah di desa saja yang terang benderang di malam hari.
Ada sebagian kecil yang menggunakan genset, ada juga yang pernah mendapat bantuan panel surya dari pemerintah pada 2008. Kalau memakai genset, untuk menyalakan 4-5 lampu selama 6 jam dari pukul 18.00 WITA sampai 24.00 WITA saja butuh 5 liter solar.
Harga solar di daerah ini Rp 10.000 per liter. Jadi pemilik genset harus mengeluarkan Rp 50.000 per hari atau Rp 1,5 juta per bulan untuk listrik. Jelas jauh lebih mahal dibanding listrik dari PLTMH.
"Kalau genset, pakai solar 4-5 liter dari Maghrib sampai jam 12 malam. Seliter Rp 10.000," tuturnya saat ditemui di Desa Oi Panihi, Bima, Sabtu (29/4/2017).
Karena itu, warga desa sangat bersyukur dengan adanya PLTMH ini. "Ini luar biasa sekali, bermanfaat buat masyarakat," tukasnya.
Kementerian ESDM telah melatih beberapa penduduk Desa Oi Panihi untuk mengoperasikan dan melakukan perawatan terhadap PLTMH. Selanjutnya, masyarakat akan mengelola pembangkit secara mandiri.
"Yang mengelola masyarakat, sudah diberi pelatihan oleh pemerintah," ucapnya.
Setelah peresmian PLTMH, warga desa bersuka cita merayakannya dengan acara dangdutan di pasar. Ina, salah satu warga, menuturkan bahwa dirinya sangat senang akhirnya listrik masuk ke desanya. "Ada listrik, nanti kalau bisa pakai kulkas," katanya.
Tapi tugas Kementerian ESDM untuk mewujudkan cita-cita 'Energi Berkeadilan' belum selesai. Warga Desa Oi Panihi masih memasak menggunakan kayu bakar. Elpiji 3 kg yang disubsidi belum sampai ke daerah ini.
Setelah listrik, Ina berharap elpiji subsidi juga sampai ke desa tempat tinggalnya. "Elpiji belum ada di sini. Kita masak masih pakai kayu bakar," tutupnya. (mca/dna)










































