Direktur Pengadaan PLN, Supangkat Iwan Santoso, mengungkapkan PLTGU Jawa-3 adalah pembangkit Load Follower, yaitu pembangkit yang beroperasi dengan kapasitas mengikuti perubahan beban sistem.
Dengan kata lain, PLTGU Jawa-3 tidak akan terus beroperasi dengan kapasitas maksimumnya yang mencapai 800 MW. Ketika konsumsi listrik sedang rendah, PLTGU Jawa-3 diturunkan kapasitasnya. Lalu bisa naik sampai 800 MW lagi ketika dibutuhkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena follower, kita akan gunakan anak perusahaan. Nanti tinggal paling lelang partner oleh anak usaha," kata Iwan kepada detikFinance, Jumat (5/5/2017).
Ia menambahkan, PLTGU Jawa-3 tidak dijadikan pembangkit Base Load karena PLN ingin biaya listrik seefisien mungkin. Pembangkit Base Load adalah pembangkit yang beroperasi dengan daya maksimum terus menerus.
Yang cocok untuk pembangkit Base Load adalah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Pembangkit batu bara cocok dijadikan tulang punggung sistem kelistrikan karena biaya produksi listriknya sangat murah.
Tetapi daya PLTU tak bisa dinaikkan atau diturunkan untuk disesuaikan dengan beban sistem. Maka dibutuhkan pembangkit-pembangkit gas yang dapat memperkuat pasokan saat beban puncak (peak), dan diistirahatkan saat beban turun.
"Jadi pembangkit-pembangkit gas ini kan karena gasnya mahal, gas itu relatif lebih mahal dari batu bara, 2,5 kali lipat harganya. Maka kalau dibuat Base Load sama saja membuat listrik mahal, jadi dibuat follower saja. Kita buat beban seminimal mungkin," Iwan menerangkan.
Kemungkinan besar, proyek PLTGU Jawa-3 akan dikerjakan PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), bukan PT Indonesia Power. Sebab, PJB sudah punya pembangkit di dekat situ. "Kalau di Gresik, kalau disebelahnya PJB ya PJB," tutupnya. (mca/wdl)











































