PLN dan ESDM Berbagi Tugas Melistriki Desa di Maluku-Papua

PLN dan ESDM Berbagi Tugas Melistriki Desa di Maluku-Papua

Michael Agustinus - detikFinance
Selasa, 16 Mei 2017 08:55 WIB
PLN dan ESDM Berbagi Tugas Melistriki Desa di Maluku-Papua
Listrik Papua (Foto: Fadhly Fauzi Rachman)
Jakarta - Maluku dan Papua adalah wilayah yang paling tertinggal pembangunannya di Indonesia. Dalam hal elektrifikasi misalnya, sampai 2016 rasio elektrifikasi Papua baru 47%. Artinya, lebih dari separuh Papua belum terjangkau jaringan listrik.

Menurut data Kementerian ESDM, ada 2.500 desa di seluruh Indonesia yang belum berlistrik sama sekali. Sebanyak 80% dari 2.500 desa itu ada di Papua.

Di Maluku, kondisinya sedikit lebih baik. Rasio elektrifikasi sudah 77%. Artinya 'hanya' 23% wilayah Maluku yang belum terjangkau jaringan listrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baik PLN maupun Kementerian ESDM sama-sama punya program khusus untuk menerangi desa-desa di Maluku dan Papua. PLN memiliki program Maluku-Papua Terang 2020. Sedangkan di Kementerian ESDM ada Program Indonesia Terang.

Kedua program ini sangat mirip, tujuannya pun sama. Meski begitu, PLN yakin Maluku-Papua Terang 2020 tak akan bertubrukan atau tumpang tindih dengan Program Indonesia Terang. Tidak akan terjadi duplikasi program karena PLN dan Kementerian ESDM sudah berbagi tugas di Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Dalam RUPTL sudah diatur, desa mana yang akan dilistriki PLN dan mana yang jadi bagian Kementerian ESDM. Jadi keduanya tak akan masuk ke desa yang sama.

Lagipula ada ribuan desa tak berlistrik di Maluku dan Papua. Baik PLN atau Kementerian ESDM tak bisa bekerja sendirian menerangi semuanya, harus 'keroyokan' supaya listrik berkeadilan bisa segera diwujudkan di seluruh Indonesia.

"Kita bersama-sama dengan Kementerian ESDM. Kita koordinasikan bersama di RUPTL. Tidak akan ada duplikasi," tegas Direktur Perencanaan PLN, Nicke Widyawati, kepada detikFinance, Selasa (16/5/2017).

PLN dan Kementerian ESDM pun punya fokus yang berbeda dalam masing-masing program. Ada 3 macam kondisi desa terisolasi yang harus dilistriki PLN dan Kementerian ESDM.

Pertama, desa yang dekat dengan jaringan listrik yang sudah ada. Jika jaraknya tak lebih dari 500 meter dari desa yang sudah berlistrik, jaringan dari desa yang sudah berlistrik diperpanjang saja ke desa tersebut.

Kedua, desa yang lokasinya terpencil, jauh dari desa-desa lainnya sehingga tidak memungkinkan penambahan jaringan. Untuk desa seperti ini, dibangun saja jaringan lokal tersendiri (off grid).

Ketiga, desa yang lokasinya terpencil jauh dari desa-desa lainnya dan rumah-rumahnya tersebar, jaraknya jauh satu sama lain, tidak mengelompok di satu tempat. Untuk desa seperti ini, rumah-rumah dilistriki dengan solar home system atau PLTS Tower.

Kata Nicke, PLN lebih fokus ke desa dengan kondisi pertama dan kedua, yaitu yang berkelompok, baik yang dekat dengan jaringan listrik maupun yang perlu jaringan off grid. Sedangkan Kementerian ESDM lebih menyasar desa dengan kondisi ketiga, yakni yang terisolasi dan rumah-rumahnya tersebar.

"ESDM lebih untuk yang tersebar, mereka ke solar home system, hanya temporary. Kalau PLN yang permanen. Kita fokus ke isolated berkelompok dan ekstensi dari jaringan yang sudah ada. Kita inginnya semua desa ini setelah ada listrik ini akan berkembang, nantinya bisa saling terkoneksi," paparnya.

Hingga 2019, PLN bertekad melistriki 1.273 desa di Papua dan 535 desa di Maluku. Jadi total ada 1.808 desa tak berlistrik di 2 pulau ini yang harus diterangi PLN dalam 3 tahun ke depan. (mca/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads