Follow detikFinance
Rabu 17 May 2017, 11:36 WIB

6 Kontrak Jual-Beli Gas Diteken, RI Raup Rp 66 Triliun

Michael Agustinus - detikFinance
6 Kontrak Jual-Beli Gas Diteken, RI Raup Rp 66 Triliun Foto: Michael Agustinus/detikFinance
Jakarta - Enam kesepakatan jual beli gas bumi telah ditandatangani dalam pembukaan Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition 2017 (IPA Convex 2017) di Jakarta Convention Centre, Rabu (17/5/2017). Kesepakatan ini diperkirakan akan menyumbang tambahan penerimaan negara sebesar sekitar US$ 5 miliar atau Rp 66 triliun (US$ 1= Rp 13.300) selama periode kontrak.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, mengatakan semua gas dalam kesepakatan tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik.

"Gas dalam kesepakatan ini akan dipasok untuk kebutuhan kelistrikan, industri, lifting minyak dan gas rumah tangga," ujar Amien dalam Pembukaan IPA Convex 2017 di JCC Senayan, Rabu (17/5/2017).

Ia menambahkan, pasokan untuk sektor-sektor tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 06 tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penetapan Alokasi dan Pemanfaatan serta Harga Gas Bumi. Enam kesepakatan yang ditandatangani tersebut terdiri atas empat kesepakatan baru dan dua amandemen dari kesepakatan yang sudah ada.

Salah satu dari kesepakatan baru tersebut adalah perjanjian jual beli gas alam cair, liquefied natural gas (LNG), antara Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) Tangguh dengan PT PLN Persero.

Dalam kesepakatan tersebut, BP beserta Kontraktor KKS Tangguh lainnya sepakat untuk memasok tambahan 16 kargo LNG per tahun untuk PLN yang akan dimulai dari 2020 sampai 2035. Pasokan tersebut bersifat multidestinasi sehingga PLN dapat memanfaatkannya untuk berbagai pembangkit di Indonesia.

"Kami berharap alokasi pasokan LNG tersebut dapat diserap sepenuhnya oleh PLN sehingga mendukung program Nawacita pemerintah untuk menyediakan listrik yang cukup serta meningkatkan rasio elektrifikasi nasional," ujar Amien.

Pasokan gas untuk kebutuhan domestik terus meningkat dari waktu ke waktu. Dalam periode 2003 sampai 2016, pasokan gas untuk domestik meningkat rata-rata 9 persen per tahun. Untuk tahun 2017, sampai akhir Februari, realisasi pasokan gas untuk domestik sudah mencapai 3.889 atau sekitar 58,5 persen dari total pasokan gas.

"Artinya pasokan gas untuk domestik sudah lebih besar dari ekspor," ujar Amien.

Dia menambahkan, untuk mengoptimalkan pasokan gas bumi bagi pembeli dalam negeri, pembangunan infrastruktur gas harus dipercepat. Dengan adanya infrastruktur gas inilah penyerapan gas dari lapangan-lapangan migas oleh sektor-sektor yang memerlukan dapat dimungkinkan.

Berikut daftar perjanjian jual beli gas yang ditandatangani:

1. Tangguh PSC Contractor Parties dengan PT PLN (Persero) untuk kebutuhan IPP Jawa 1 sejumlah 16 kargo per tahun

2. Conoco Phillips (Grissik) Ltd dengan PT PGN (Persero) Tbk untuk industri di wilayah Dumai dan Pekanbaru sejumlah 8 ramp up 37 BBTUD

3. EMP Bentu Limited dengan PT Pertamina (Persero) untuk jaringan gas rumah tangga di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau sejumlah 0,2 MMSCFD

4. EMP Bentu Limited dengan Perusahaan Daerah Tuah Sekata untuk kelistrikan sejumlah 6 BBTUD dari sebelumnya 3 BBTUD.

5. Petrogas Basin dengan PT Malamoi Olom Wobok untuk kelistrikan dan lifting sejumlah 8 MMSCFD.

6. PetroChina International Jabung Limited dengan PT Gemilang Jabung Energi untuk kelistrikan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sejumlah 2 BBTUD untuk tahun pertama dan tahun kedua, serta 5 BBTUD untuk tahun ketiga dan selanjutnya. (mca/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed