Follow detikFinance
Rabu 17 May 2017, 14:32 WIB

Industri Hulu Migas RI Krisis, Ini Solusi Pengusaha

Michael Agustinus - detikFinance
Industri Hulu Migas RI Krisis, Ini Solusi Pengusaha Foto: Michael Agustinus/detikFinance
Jakarta - Indonesian Petroleum Association (IPA) mengumumkan investasi di sektor hulu migas Indonesia pada 2016 menurun 27% dibanding 2015, dari US$ 15,34 miliar menjadi US$ 11,15 miliar.

Dengan kata lain, Indonesia kehilangan investasi US$ 4,19 miliar atau Rp 55 triliun (dengan asumsi kurs dolar Rp 13.300) dari hulu migas pada tahun lalu.

IPA menyebut industri hulu migas Indonesia sudah mengalami krisis. Investor tak lagi melihat Indonesia sebagai tujuan yang menarik.

Presiden IPA, Christina Verchere, mengusulkan beberapa langkah yang dapat diambil pemerintah untuk membuat sektor hulu migas nasional kembali atraktif. Pertama, pemangkasan birokrasi dan perizinan di hulu migas untuk menciptakan efisiensi.

"Kami akan berbincang banyak dengan pemerintah dalam beberapa hari ke depan. Kami kan mencari berbagai solusi. Tapi saya melihat sejumlah komponen, pertama efisiensi, ada efisiensi yang dilakukan di industri ini," kata Christina dalam pembukaan IPA Convex 2017 di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (17/5/2017).

Kedua, pemerintah perlu menawarkan split (bagi hasil) yang lebih menarik untuk kontraktor migas. Keekonomian setiap proyek migas tentu berbeda, tergantung besarnya cadangan minyak dan tingkat kesulitan untuk memproduksinya. Maka split harus lebih fleksibel.

"Soal gross split, kami mendengar tengah ada pembicaraan, ada sejumlah isu spesifik pada sejumlah proyek," kata Christina.

Ketiga, perlu kebijakan fiskal yang menarik untuk industri hulu migas. Jangan ada pajak-pajak yang memberatkan para kontraktor migas. "Soal pajak bukan hanya menjadi tanggung jawab Menteri Energi," katanya.

Sebagai informasi, penurunan investasi berimplikasi pada kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan migas baru. Semakin sedikit perusahaan hulu migas yang mau mencari minyak dan gas bumi di Indonesia.

Di 2013, jumlah wilayah eksplorasi di Indonesia masih 238. Pada 2016 menyusut menjadi 199 wilayah saja, 37 di antaranya sedang dalam proses pengakhiran kontrak.

Akibat sepinya eksplorasi, tak ada penemuan cadangan migas baru di Indonesia. Sementara jumlah cadangan minyak yang terbukti terus merosot dari 3,7 miliar barel pada 2013 menjadi 3,3 miliar barel saat ini.

Kalau tak ada tambahan cadangan baru, produksi minyak Indonesia akan segera habis. Sebenarnya potensi migas yang ada masih banyak, tapi perlu kegiatan eksplorasi untuk menjadikannya sebagai cadangan terbukti. Jika iklim investasi tak diperbaiki, potensi-potensi migas yang ada itu tidak akan tersentuh. (mca/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed