Kondisi ini terjadi karena cadangan listrik (reserve margin) di Sumut hanya 5%. Sehingga, saat ada pembangkit listrik yang masuk tahap pemeliharaan dan perlu dipadamkan, tidak cadangan listrik sebagai pengganti.
"Untuk Sumatera Utara itu 5%, jadi kalau ada pembangkit yang dipelihara atau yang gangguan jadi pemadaman," tutur Direktur Bisnis Regional Sumatera PLN Amir Rosidin, di Jakarta, Jumat (19/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi pertumbuhan beban sangat agresif sekali. Kalau dari data teman-teman di lapangan itu rata-rata sekarang mengejar pelanggan. Pokoknya satu hari setiap rayon harus nyambung ke pelanggan, rata-rata per rayon itu 10-15 pelanggan," terang Amir.
Untuk mengatasi hal itu, saat ini Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla di Tapanuli Utara berkapasitas 110 MW sudah beroperasi. Selain itu di Sumut saat ini juga telah hadir kapal pembangkit listrik atau Marine Vessel Power Plant (MVPP) berkapasitas 240 MW.
"Kemudian akan beroperasi lagi Sarulla unit 2 itu 110 MW, jadi kan total 460 MW," imbuhnya.
Sementara di wilayah lainnya di Sumatera sudah lebih baik ketimbang di Sumut dan Aceh. Seperti di wilayah tengah Sumatera saat ini reserve marginnya sudah 10%.
"Karena ada Sumsel 5 beroperasi 300 MW," pungkas Amir. (hns/hns)











































