Qatar berbagi ladang gas terbesar di dunia, South Pars, dengan Iran. Hubungan komersial dan bisnis tersebut membuat Arab Saudi dan negara-negara Dewan Kerja sama Teluk lainnya tak nyaman.
Negara-negara Arab berselisih dengan Iran atas dukungan Teheran terhadap militan terkait Syiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini jelas merupakan usaha untuk membuat Qatar tidak mendukung Iran atau Ikhwanul Muslimin," kata visiting research professor the Middle East Institute di National University of Singapore, Peter Sluglett, seperti dikutip dari CNBC.com, Senin (5/6/2017).
Sluglett mencatat bahwa ada hubungan erat Qatar dengan Iran di lapangan gas dan Doha kadang-kadang tidak nyaman dengan dorongan keras terhadap Teheran. "Mereka merasa sangat konyol untuk membabi buta mengikuti pandangan AS tentang Iran."
Bahrain, sekutu dekat Saudi, juga mengatakan pada hari ini bahwa pihaknya telah memotong hubungan diplomatik dengan Qatar, dengan alasan negara itu mendukung terorisme dan mencampuri urusan dalam negeri Bahrain.
Demikian juga Uni Emirat Arab (UEA). UEA menuduh tetangganya di Teluk Arab mendukung ekstremisme dan merongrong stabilitas regional.
UEA memberi waktu 48 jam pada para diplomat Qatar untuk meninggalkan negara tersebut, dengan alasan "dukungan, pendanaan dan pelukan mereka terhadap organisasi teroris, ekstremis dan sektarian."
Qatar adalah pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia dan memiliki perhubunganan udara dan perbankan yang luas di Arab Saudi, Bahrain, maupun UEA. Maskapai penerbangan milik negara, Qatar Airways, menggunakan terminal udara di semua negara itu dan memiliki hubungan luas ke Eropa, Asia dan Amerika Serikat. (mca/hns)











































