Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 07 Jun 2017 08:35 WIB

Penjelasan Dirut Pertamina Soal Banyak Proyek Kilang yang Tertunda

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - PT Pertamina (Persero) saat ini tengah menyiapkan sejumlah proyek Refinery Development Masterplan Program (RDMP) dan New Grass Root Refinery (NGRR) yang ditargetkan selesai secara bertahap hingga tahun 2025 mendatang.

Proyek-proyek kilang tersebut antara lain RDMP Balikpapan yang ditarget on stream atau beroperasi pada tahun 2020, kemudian RDMP Balong dengan target 2021. Lalu GRR Bontang yang ditarget 2023, selanjutnya GRR Tuban yang ditarget beroperasi 2024, dan RDMP Cilacap yang ditarget 2023-2024.

Sebelumnya, Pertamina menargetkan proyek-proyek itu dapat selesai secara bertahap di tahun 2023, dengan begitu RI sudah bisa swasembada BBM saat itu juga. Namun demikian, sejumlah target proyek tersebut mundur, dan membuat seluruh proyek ditarget selesai secara bertahap hingga tahun 2025.

Direktur Utama PT Pertamina, Elia Masa Manik, menjelaskan sejumlah proyek tersebut hanya mundur satu sampai dua tahun dari target sebelum. Seperti RDMP Cilacap yang tadinya ditarget on stream pada 2021 akhirnya digeser ke 2023. Selain itu proyek GRR Tuban yang tadinya ditarget 2022 kemudian mundur ke tahun 2024.

"Enggak ada sebenernya delay, kita cuma memastikan front and enginering design selesai dulu baru kita mulai procurement. Karena kan sebenarnya front and engineering design itu selesai bulan Juni, jadi kan sebenarnya sudah tinggal sedikit. Kalau pekerjaan lain seperti site preparation ini semua kan tetap jalan. Kayak pemindahan apartemen kan udah selesai, sudah selesai proyeknya," kata Elia di Gedung DPR, Jakarta, Selasa malam (6/6/2017).

Lebih lanjut Elia menerangkan secara garis besar pihaknya dengan mitra proyek RDMP Cilacap dan GRR Tuban masih terus melakukan pembicaraan detail, termasuk soal kemampuan keuangan Pertamina sendiri. Diketahui untuk proyek Cilacap, perusahaan plat merah tersebut bekerja sama dengan Saudi Aramco, sementara proyek Tuban dengan Rosneft.

"Proyek ini kan ada dua yang kita berpartner kan, satu dengan Saudi Aramco, satu dengan Rosneft, Rusia. Nah proyek ini kan hampir US$ 20 miliar nih yang dua proyek ini. Nah IFRS (International Financial Reporting Standards) tahun 2016 kalau kita memberikan off take agreement itu kan kita harus mengakui liabilitynya, ini yang perlu kita schedule," terangnya.

"Karena kalau liability-nya kita akui kemudian kan jadi tambah utang nih karena off take agreement kan, lalu akan membuat covenant kita naik. Covenant itu kan debt dibagi equity, modal. Itu makanya kita coba reschedule kebelakang sedikit tapi tetap memenuhi target 2025," sambung dia.

Elia juga mengatakan kalau penggeseran target tersebut dapat dilakukan karena tidak masuk dalam aturan Keputusan Menteri maupun Peraturan Menteri. Diharapkan bagi kedua belah pihak, antara Pertamina dengan mitra tak masalah.

"Itu dulu keputusan itu dulu joint venture development agreement, itu B2B. Peraturan ESDM kan tidak mengharuskan untuk itu. Tapi kan kalau orang enggak dikasi off take ya bagaimana dia mau investasi," katanya.

Sebelumnya, Elia mengakui kalau pihaknya optimis dapat selesai menggarap RDMP Cilacap bersama dengan Saudi Aramco bakal selesai di tahun 2021. Namun dengan kemunduran ini, Elia mengakui justru Aramco senang bila targetnya digeser ke belakang.

"Ya namanya dia optimis kan kita bicara terus. Makanya kan kita bicara. Dia (Saudi Aramco) kan sebenarnya kan juga lebih lega kalau kita enggak terlalu dorong terburu-buru begitu," tukasnya. (mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com