Pemerintah membantu mencarikan jalan keluar, agar proyek-proyek kilang bisa tetap berjalan sesuai jadwal tanpa mengganggu keuangan Pertamina.
"Semua opsi lagi dikaji, Pertamina optimumnya berapa. Kami sih pemerintah inginnya tidak mundur," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (13/6/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wirat mengungkapkan, kilang-kilang minyak harus segera dibangun untuk menekan ketergantungan Indonesia pada impor BBM. Kalau proyek kilang molor semua, impor akan membengkak.
"Berbagai opsi sedang dikaji, kita ingin lebih cepat lebih bagus karena kita impor BBM sudah banyak. Sedang dibahas terus menerus bagaimana agar kilang bisa selesai on schedule," tukasnya.
Pembangunan kilang minyak juga akan menciptakan banyak multiplier effect. Mulai dari masuknya investasi berskala besar, penciptaan lapangan kerja, hingga berkurangnya impor BBM. Makanya proyek kilang sangat penting.
"Yang jelas saat ini kita impor BBM besar. Kalau kilang dibangun, investasi masuk, ekonomi bergerak, dan impor BBM berkurang," tutur Wirat.
Pertamina sendiri ingin proyek kilang dijadwal ulang, mundur 1-3 tahun tiap proyek. Pemerintah masih mempertimbangkan opsi lain supaya proyek tak molor.
"Pertamina ingin bertahap, itu yang sedang dibahas. Dari pemerintah, kalau Pertamina keuangannya berat mungkin porsinya (kepemilikan) diturunkan," tutupnya.
Seperti diketahui, Pertamina memundurkan target penyelesaian proyek-proyek kilang minyak. Awalnya semua proyek kilang direncanakan selesai semua pada 2023. Tetapi sekarang tiap proyek mundur 1-3 tahun.
Keputusan ini diambil dengan pertimbangan kemampuan finansial. Saat ini Pertamina tengah menjalankan 4 proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) alias modifikasi kilang Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Dumai. Selain itu ada 2 proyek Grass Root Refinery (GRR) atau pembangunan kilang baru di Tuban dan Bontang.
Tiap proyek RDMP membutuhkan biaya investasi kurang lebih sebesar US$ 5 miliar atau Rp 65 triliun, sedangkan 1 proyek GRR nilainya sekitar US$ 12,5 miliar alias Rp 162,5 triliun. Artinya semua proyek itu memakan biaya US$ 45 miliar atau Rp 585 triliun.
Kemampuan keuangan Pertamina ternyata tak cukup kuat untuk menggenjot proyek-proyek kilang selesai di 2023, meski sudah bermitra dengan Rosneft di GRR Tuban dan Saudi Aramco di RDMP Cilacap. Itulah sebabnya proyek diulur, supaya beban keuangan Pertamina tak terlalu berat.
Berikut daftar proyek kilang Pertamina yang molor, diringkas oleh detikFinance:
- RDMP Balikpapan awalnya ditargetkan selesai 2019, mundur 1 tahun menjadi 2020.
- RDMP Cilacap awalnya direncanakan selesai 2022, mundur ke 2023 atau 2024.
- RDMP Balongan yang target awalnya selesai 2020 berdekatan dengan RDMP Balikpapan, mundur setahun ke 2021.
- GRR Tuban dari rencana awal selesai tahun 2021, mundur 3 tahun sampai 2024.
- GRR Bontang sementara tetap ditargetkan selesai pada 2023. Tapi porsi kepemilikan Pertamina di GRR Bontang hanya 5% saham, sisanya dikuasai mitra strategis.











































