Follow detikFinance
Rabu 14 Jun 2017, 15:03 WIB

Biaya Proyek Gas IDD Membengkak, Ini Solusinya

Michael Agustinus - detikFinance
Biaya Proyek Gas IDD Membengkak, Ini Solusinya Ilustrasi (Foto: Michael Agustinus)
Jakarta - Dua ladang gas di proyek Indonesia Deepwater Development (IDD), yaitu Lapangan Gendalo dan Gehem di Selat Makassar, sampai sekarang belum digarap akibat masalah tingginya biaya investasi.

Padahal cadangan gas di 2 lapangan ini cukup besar. Lapangan Gendalo diperkirakan memiliki cadangan 882,45 BSCF dan Gehem menyimpan 697,99 BSCF.

Kalau proyek IDD jalan di tempat, Indonesia akan semakin bergantung pada impor gas di masa mendatang akibat kenaikan permintaan dan penurunan produksi di dalam negeri.

Sebagai upaya untuk menekan biaya investasi dan mempercepat pengembangan gas di proyek IDD, Kementerian ESDM mendorong kerja sama antara kontraktor Lapangan Jangkrik, yaitu Eni, dengan Chevron yang kontraktor IDD.

Kebetulan lokasi Lapangan Jangkrik dan Lapangan Gendalo berdekatan, sehingga bisa menggunakan fasilitas secara bersama-sama. Dengan begitu, ada biaya-biaya yang tak perlu dikeluarkan lagi untuk pengembangan gas di Lapangan Gendalo.

"Untuk menurunkan biaya supaya lebih efisien di IDD, lagi dikaji menggunakan fasilitas bersama dengan Eni di Lapangan Jangkrik," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja, kepada detikFinance, Rabu (14/6/2017).

Misalnya kapal Floating Production Unit (FPU) yang digunakan di Lapangan Jangkrik, bisa saja digunakan juga untuk menampung gas dari Lapangan Gendalo dan mengalirkannya ke Kilang LNG Bontang.

"Misalnya kapal FPU-nya, daripada bangun baru kan lebih mahal, kalau bisa kombinasikan ke sini lebih murah," Wirat menjelaskan.

Cara ini tentu akan membuat biaya investasi proyek IDD lebih efisien. Wirat mengatakan, saat ini sedang dikaji apakah kapal FPU di Jangkrik cukup besar kapasitasnya untuk digunakan juga oleh Chevron. Bisa saja kapal dimodifikasi agar kapasitasnya lebih besar.

"Sedang dikaji kapasitasnya, apa nanti dimodifikasi. Sedang kita kaji berapa besar efisiensinya kalau kapal FPU bisa dipakai bersama," pungkasnya.

Sebagai informasi, Plan of Development (PoD) alias rencana pengembangan IDD telah disetujui di 2008, namun pada 2012 Chevron Indonesia Company meminta dilakukan revisi PoD karena ada perubahan nilai investasi yang mencapai US$ 12 miliar.

Revisi PoD tersebut sampai sekarang belum diajukan ke pemerintah. Dengan jatuhnya harga minyak, bagi Chevron proyek IDD ini kalah dengan portofolio proyek di tempat lain. Saat ini yang baru dikembangkan di IDD hanya Lapangan Bangka.

Pengembangan lapangan IDD diharapkan akan menambah pasokan gas hingga 800 MMSCFD. (mca/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed