Sepuluh desa di Kalteng terdiri dari 1.200 Kepala Keluarga (KK) tersebar di Desa Tumbang Marak di Kabupaten Katingan, Desa Ujung Pandaran di Kabupaten Kotawaringin Timur, Desa Rungau Raya dan Desa Suka Makmur di Kabupaten Seruyan, Desa Arut Selatan di Kabupaten Kotawaringin Barat.
Kemudian, lima desa lainnya berlokasi di Kota Palangka Raya yang terdiri dari Desa Mungku Baru, Desa Bukit Sua, Desa Petuk Berunai, Desa Panjehan, dan Desa Gaung Baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Dok. PLN |
"Kami menyadari bahwa listrik sudah menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa ditawar lagi. Program Listrik Desa ini adalah salah satu upaya kami untuk memenuhi listrik warga dan merupakan persembahan PLN bagi masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri," ujar General Manager PLN Kalselteng, Purnomo, dalam keterangan tertulis, akhir pekan lalu.
Upaya melistriki 19 desa itu dilakukan lewat Program Listrik Desa. Namun, menerangi pedalaman Kalimantan bukan pekerjaan mudah.
Para pekerja PLN harus berjuang menembus hutan dan kawasan rawa memasang jaringan listrik. Mereka juga harus mengangkut tiang dan kabel listrik melewati jalan rusak dan berlumpur.
Foto: Dok. PLN |
Foto: Dok. PLN |
"Saat ini listrik sudah menjadi kebutuhan primer, maka dari itu kami selalu berjuang agar seluruh masyarakat dapat menikmati listrik. Tidak hanya di perkotaan saja, tetapi juga di pedesaan. Karena kami sadar bahwa dengan listrik perekonomian dapat tumbuh, dan jika perekonomian tumbuh kualitas kehidupan masyarakat juga akan meningkat," tutur Purnomo.
Menurut catatan PLN biaya melistriki 10 desa di Kalteng sebesar Rp 7,7 miliar, sedangkan untuk 9 desa di Kalsel Rp 2,3 miliar. Saat ini rasio elektrifikasi di Kalsel sudah mencapai 90,24% dan Kalteng 75,22%.
Foto: Dok. PLN |
Foto: Dok. PLN |
Foto: Dok. PLN |












































Foto: Dok. PLN
Foto: Dok. PLN
Foto: Dok. PLN
Foto: Dok. PLN
Foto: Dok. PLN
Foto: Dok. PLN