Tarif Listrik Tak Naik, Jonan: Kalau Bisa Malah Turun Per 3 Bulan

Tarif Listrik Tak Naik, Jonan: Kalau Bisa Malah Turun Per 3 Bulan

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 05 Jul 2017 15:38 WIB
Tarif Listrik Tak Naik, Jonan: Kalau Bisa Malah Turun Per 3 Bulan
Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Menteri ESDM, Ignasius Jonan, kembali menegaskan tidak ada kenaikan tarif listrik sampai akhir tahun ini, baik subsidi maupun non subsidi. Mempertimbangkan berbagai hal, seperti daya beli masyarakat dan efisiensi PLN, pemerintah memutuskan tak boleh ada kenaikan tarif per 1 Juli 2017 sampai 31 Desember 2017.

"Pemerintah menetapkan dengan pertimbangan banyak hal, daya beli masyarakat, juga efisiensi PLN, tarif listrik tidak ada penyesuaian mulai 1 Juli sampai 31 Desember 2017," kata Jonan, dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (5/7/2017).

Bahkan, Jonan meminta PLN berupaya menurunkan tarif listrik tiap 3 bulan sekali. Penurunan tarif listrik akan sangat bermanfaat untuk masyarakat. Untuk pelanggan industri misalnya, biaya listrik yang lebih efisian tentu meningkatkan daya saing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami minta kalau bisa PLN tiap 3 bulan komit turunkan tarifnya. Kalau bisa lebih banyak golongan pelanggan bisa turun. Kita akan coba sebisa mungkin. Contohnya untuk industri, kami memerlukan daya saing yang luar biasa, Bapak Presiden sudah minta listrik sebagai salah satu tonggak untuk meningkatkan daya saing. Kalau lebih terjangkau, semua kegiatan ekonomi lebih efisien," tegasnya.

Jonan ingin rata-rata tarif listrik industri yang sekarang Rp 1.100/kWh bisa turun menjadi Rp 800-900/kWh dalam 3 tahun.

"Tarif industri sekarang kira-kira sekitar Rp 1.100/kWh, kami punya target sampai 2020 kalau bisa Rp 800-900/kWh. Rumah tangga sama, dari Rp 1.400/kWh kami akan berusaha untuk makin turun. Ini memang tantangannya besar," ujarnya.

Demikian juga tarif listrik rumah tangga, Jonan berharap PLN bisa menurunkannya perlahan-lahan dalam 2 tahun ke depan. "Harapan kami sampai 2 tahun ke depan pelan-pelan turun misalnya 5%. Kalau enggak bisa 2 tahun ya sampai 2020 kami teruskan," tukasnya.

Agar tarif listrik bisa makin terjangkau oleh masyarakat, Jonan mendorong kesepakatan jual-beli listrik yang fair antara PLN dengan Independent Power Producer (IPP). "Semua IPP harus betul-betul sangat efisien. PLN dan ESDM akan review semua investasinya, dan sebagainya. Kami akan coba mencapai harga yang fair, investasi yang fair," paparnya.

PLN juga didorong supaya lebih banyak menggunakan pembangkit listrik mulut tambang yang dekat dengan sumber bahan bakar, sehingga tarif listriknya bisa efisien. "PLTU mulut tambang itu (harga listrik) bisa di bawah US$ 5 sen/kWh," katanya.

Lebih lanjut, Jonan mengungkapkan, pemerintah mendorong peningkatan pasokan listrik di satu sisi, dan keterjangkauan tarif listrik di sisi lainnya. Listrik yang melimpah tentu kurang manfaatnya kalau sulit dijangkau masyarakat.

"Tujuan utama, listrik di samping ketersediaan cukup, tarif harus makin terjangkau. Kalau listrik melimpah tapi tarif tidak terjangkau, buat apa?" pungkasnya. (mca/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads