Dalam akun Facebook resminya, Jonan sempat mengunggah foto dirinya di samping mobil listrik buatan China yang sedang mengisi daya di lapangan parkir.
Foto: Dok. Facebook Ignasius Jonan |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, jawabannya adalah bisa. Tapi ada syaratnya, ada beberapa persiapan dan langkah yang harus dilakukan.
Pertama, harus dibuat insentif untuk menumbuhkan industri dan pasar mobil listrik di dalam negeri. Misalnya dengan keringanan pajak. Pajak rendah akan membuat harga mobil listrik jadi kompetitif sehingga diminati masyarakat.
Mobil listrik, Jongkie melanjutkan, layak mendapat insentif karena bukan hanya hemat bahan bakar minyak (BBM), tapi sama sekali tak menggunakan BBM. Juga tidak mengeluarkan asap polusi, ramah lingkungan.
"Kan mobil listrik enggak pakai BBM, enggak berpolusi, ini perlu mendapat perhatian khusus. Misalnya dengan pengurangan pajak. Makin hemat BBM dan polusi patut diberi pajak lebih rendah. Kalau ada pengurangan pajak, harganya bisa lebih murah. Kalau harganya mahal, orang pasti enggak mau beli," ujar Jongkie kepada detikFinance, Selasa (11/7/2017).
Kedua, sarana dan prasarana untuk mobil listrik perlu disiapkan agar masyarakat bisa mengendarainya di jalan raya dengan aman dan nyaman. Misalnya charging station untuk mengisi daya mobil listrik.
Di negara-negara maju, tempat parkir kantor dan pusat perbelanjaan sudah dilengkapi dengan charging station untuk mobil listrik. Jadi mobil bisa mengisi daya saat diparkir sembari sang pemilik mobil bekerja, berbelanja, atau melakukan aktivitas lainnya.
"Sarana dan prasarananya perlu disiapkan dulu. Sekarang misalnya saya pakai mobil listrik, nge-charge (mengisi daya baterai) di mana? Kalau parkir di kantor bisa sambil nge-charge enggak? Kalau di negara-negara Eropa, sudah banyak charging station," Jongkie menuturkan.
Ketiga, harus diperhitungkan juga kecukupan pasokan listrik di Indonesia. Mobil listrik tentu hanya bisa cocok dipakai di daerah-daerah yang suplai listriknya sudah andal. Di daerah yang masih defisit listrik sehingga ada pemadaman bergilir alias byar pet, tentu mobil listrik bakal menambah masalah.
"Listriknya juga, ada enggak? Kalau Jakarta sih bisa, tapi kan masih banyak wilayah lain yang kekurangan listrik," tukas dia.
Jongkie mengimbuhkan, membuat mobil listrik bukan lagi sesuatu yang sulit. Teknologinya sudah ada, sudah banyak produsen otomotif yang memproduksinya secara massal, Indonesia bisa mempelajarinya. Yang paling sulit bukan memproduksi mobilnya, tapi mempersiapkan bagaimana agar mobil listrik layak diproduksi massal dan mengaspal di Indonesia.
"Bikin mobil gampang. Kalau hal-hal ini diperhatikan, pasti bisa," tutupnya. (mca/wdl)












































Foto: Dok. Facebook Ignasius Jonan