Pengajuan proposal tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang ditandatangani oleh Pertamina dan National Iranian Oil Company (NIOC) pada 8 Agustus 2016 lalu.
Pada akhir pekan ini, Pertamina mengirim tim ke Iran untuk membahas bentuk kontrak yang diberlakukan untuk menggarap Lapangan Ab-Teymour dan Mansouri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua lapangan yang terletak di Bangestan, bagian selatan Iran itu memiliki potensi cadangan masing-masing lapangan lebih dari 1,5 miliar barel dengan potensi produksi masing-masing dapat mencapai lebih dari 200 ribu barel per hari.
Selain Iran, Pertamina juga membidik lapangan di Rusia, yaitu Russkoye. Pengelolaan lapangan migas di Rusia ini merupakan bagian dari beberapa kesepakatan kerja sama Pertamina dan Rosneft, yang terbesar adalah di proyek New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban.
Rencananya, Pertamina akan menguasai 37,5% PI Lapangan Russkoye. Dari tiap lapangan di luar negeri, Pertamina menargetkan bisa membawa pulang minyak mentah hingga di atas 30.000 barel per hari (bph) untuk kebutuhan dalam negeri.
Sebenarnya Pertamina menargetkan sudah memperoleh persetujuan dari Rosneft pada Kuartal I 2017 untuk pengelolaan Lapangan Russkoye. Tapi sampai sekarang belum terealisasi.
Saat ini Pertamina masih menghitung keekonomian dan bernegosiasi dengan Rosneft soal harga untuk Hak Partisipasi (Participating Interest/PI) di Lapangan Russkoye. "Untuk yang di Rusia masih evaluasi komersialnya," tutup Alam.
Ekspansi ke luar negeri dilakukan Pertamina untuk mengamankan kebutuhan minyak di dalam negeri. Sebab, cadangan minyak di dalam negeri sudah semakin menipis. Maka Pertamina mencari minyak di luar negeri untuk dibawa pulang ke Indonesia. (mca/dna)











































