Follow detikFinance
Senin 07 Aug 2017, 11:09 WIB

Jonan: RI Sudah Siap Kembangkan Mobil Listrik

Michael Agustinus - detikFinance
Jonan: RI Sudah Siap Kembangkan Mobil Listrik Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Sumber daya manusia yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini sangat siap untuk mendukung pengembangan mobil listrik, begitupula jika mobil listrik dirakit di Indonesia. Cassisnya, onderdilnya, interiornya, sistem kemudinya semuanya sama, yang berbeda hanya menghilangkan mesinnya diganti dengan baterai.

Demikian diutarakan Menteri ESDM, Ignasius Jonan, usai menghadiri acara The 7th Asian Youth Day di Yogyakarta, Sabtu (5/8/2017).

"Kalau di-assembling (dirakit) di sini, Indonesia sangat siap sekali karena onderdilnya sama, casis-nya sama, interiornya sama, sistem kemudinya juga sama. Yang beda itu mesinnya enggak ada, diganti baterai yang menyalurkan listrik ke penggerak roda. Perusahaan-perusahaan otomotif besar seperti Mercedes Benz, Toyota, Nissan merubah seperti ini untuk mobil angkutan penumpang," kata Jonan dalam keterangan tertulis, Senin (7/8/2017).

Mobil listrik adalah proses modernisasi sehingga perkembangannya tidak bisa dihindari. Karena itu, pengembangan mobil listrik menjadi prioritas dan dimasukkan dalam perhitungan pemerintah, mengikuti perkembangan global, terutama dalam menjawab isu perubahan iklim dan lingkungan.

"Sesuai dengan arahan Bapak Presiden itu, kita sudah harus mulai mengadopsi kehadiran mobil listrik di jalan-jalan raya di Indonesia. Misalnya Prancis itu sudah melarang mobil non listrik di jalan raya pada tahun 2040. Inggris juga sama. Pokoknya tidak ada lagi penjualan mobil di wilayah Inggris Raya berbahan bakar hydrocarbon, tetapi berbahan bakar listrik. Di Indonesia juga segera dimulai dengan menugaskan Kementerian ESDM untuk membuat Keputusan Presiden (Keppres) yang intinya supaya mobil listrik itu bisa segera ada," ujarnya.

Kehadiran mobil listrik, menurut Jonan, mempunyai tiga keuntungan. Pertama mengurangi emisi gas buang, kedua membuat udara lebih bersih, dan yang ketiga ini masyarakat mempunyai pilihan apakah tetap menggunakan mobil berbahan hydrocarbon atau menggunakan listrik.

"Kalau menurut saya, menggunakan mobil listrik emisinya nol, polusinya enggak ada. Kita tidak bisa menghambat adanya perkembangan zaman termasuk modernisasi," ujar Jonan.

Jonan menambahkan, dari sisi sumber daya manusianya, Indonesia sudah siap dan untuk mengisi daya listrik ke dalam baterai ada beberapa alternatif, misalnya menukar baterai yang kosong dengan baterai yang terisi penuh di SPBU-SPBU seperti pemakaian tabung elpiji 3 kg. "Kalau orang mikir tiap rumah harus ada colokan yang kira-kira 3.000 Watt, 5.000 Watt, ya engga jadi-jadi, ya sudah pokoknya seperti elpiji 3 kg kalau habis tukar," jelas Jonan.

Untuk mempercepat masuknya mobil listrik di jalan-jalan raya Indonesia, beberapa alternatif dapat dilakukan, misalnya dengan membebaskan pajak bea masuk.

"Saya kira kalau bea masuk dan pajak atas barang mewah untuk mobil listrik dihapus, perkembangannya akan cepat, tinggal kebijakannya mau melokalisasi produksi itu mau kapan. Kalau menurut saya tidak bisa langsung (lokalisasi produksi), kalau mau dipaksa langsung, saya tidak tahu, Gaikindo saya belum dengar pandangan bagaimana," tutup Jonan. (mca/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed