Follow detikFinance
Kamis 10 Aug 2017, 16:16 WIB

ESDM: 3 Smelter Nikel Bangkrut Gara-gara Harga Batu Bara Naik

Michael Agustinus - detikFinance
ESDM: 3 Smelter Nikel Bangkrut Gara-gara Harga Batu Bara Naik Batu Bara (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta - Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono, menyampaikan bahwa pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) pada semester I tahun 2017 telah mencapai target. Dari target 4 smelter yang akan dibangun pada 2017, dua smelter telah dibangun hingga tengah tahun 2017.

Bambang juga menjelaskan bahwa realisasi ekspor nikel (ore) pada semester I tahun 2017 baru mencapai 403 ribu ton, dari total rekomendasi ekspor sebesar 8,16 juta ton.

"Ekspor ore itu diberikan untuk mengetahui dan memberikan insentif kepada yang serius membangun (smelter). Karena kalau dia tidak memenuhi progress, (rekomendasi ekspornya) dicabut. Siapa yang serius, sesuai kapasitas smelter dia akan dapat diberikan ijin ekspor," tegas Bambang dalam keterangan tertulis, Kamis (10/8/2017).

Hingga saat ini, tercatat 13 smelter nikel yang telah terbangun, namun tiga diantaranya kini terhenti operasinya karena alasan keekonomian perusahaan.

Ketiga smelter dimaksud adalah PT Indoferro dan PT Bintang Timur Steel di Cilegon, serta PT Cahaya Modern Metal Industri di Sulawesi Tenggara.

Dalam laporan yang disampaikan Direktorat Jenderal (Ditjen) Minerba, akhir Juli lalu, disebutkan bahwa ketiganya berhenti beroperasi dikarenakan masalah ekonomi perusahaan, terutama akibat pengoperasian peleburan nikel dengan menggunakan teknologi Blast Furnace yang sangat dipengaruhi harga bahan baku, salah satunya adalah batu bara kokas (cooking coal).

"Harga kokas, yang memiliki porsi 40% dari total biaya produksi, meningkat dari rata-rata US$ 100/ton pada tahun 2015 menjadi US$ 200-300/ton sejak akhir tahun 2016. Hal inilah yang menjadi penyebab terhentinya kegiatan produksi PT Cahaya Modern Metal Industri," papar Bambang.

Sementara itu, operasi PT Indoferro dan PT Bintang Timur Steel sejak awal tidak didesain untuk memurnikan bijih nikel, sehingga tingkat keekonomiannya akan berbeda dengan desain awal. PT Indoferro semula memurnikan bijih besi sedangkan PT Bintang Timur Steel semula memurnikan bijih mangan.

PT Indoferro yang memiliki kapasitas output 200.000 ton per tahun berhenti berproduksi sejak 19 Juli 2017. Sementara PT Bintang Timur Steel yang berkapasitas produksi 37.440 ton per tahun sejak commissioning pada Juli 2015 belum beroperasi secara continue.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa hingga saat ini terdapat 10 smelter nikel beroperasi dengan total produksi 1.468.596 ton per tahun. Sementara, 13 smelter nikel lainnya saat ini dalam tahap konstruksi dengan total kapasitas mencapai 1.853.000 ton per tahun apabila ke-13 smelter tersebut sudah berproduksi. (mca/dna)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed