542 'SPBU Listrik' Tersebar di DKI, Akhir Tahun Bakal Ada 1.000

542 'SPBU Listrik' Tersebar di DKI, Akhir Tahun Bakal Ada 1.000

Citra Fitri Mardiana - detikFinance
Rabu, 23 Agu 2017 20:07 WIB
542 SPBU Listrik Tersebar di DKI, Akhir Tahun Bakal Ada 1.000
Foto: Citra Fitri Mardiana/detikFinance
Jakarta - Program mobil listrik kembali digaungkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. Presiden Jokowi juga ikut mendukung program pengembangan mobil listrik.

Bak gayung bersambut, program mobil listrik direspons PT PLN (Persero) dengan menyediakan SPLU atau Staisun Pengisian Listrik Umum (SPLU). Fungsi SPLU seperti SPBU untuk mobil berbahan bakar bensin.

Sejak Agustus 2016 PLN sudah membangun SPLU di Jakarta. Hingga Juli 2017, PLN telah menyediakan 542 SPLU di Jakarta. 'SPBU' mobil listrik ini di antaranya tersebar di Marunda, Bandengan, Ciracas, Bulungan, Pondok Kopi, Ciputat, Pondok Gede. Kemudian, Blok S, Kebon Jeruk, Lenteng Agung, Cempaka, Putih, dan Menteng

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan, PLN Distribusi Jakarta Raya, Leo Basuki, jumlah SPLU di Jakarta akan terus bertambah hingga 1.000 unit sampai akhir 2017.

"SPLU sebagai charging Station kendaraan listrik akan lebih pas apabila diletakkan di tempat parkir karena di sana, mobil atau motor listrik akan diparkir dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga dapat sekaligus dicharge," jelas Leo dalam kesempatan berbincang bersama media, di Museum Listrik dan Energi Baru Terbarukan, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (23/8/2017).

Keunggulan mobil listrik

Mobil listrik disebut-sebut lebih hemat dibandingkan dengan mobil berbahan bakar minyak (BBM). Untuk jarak tempuh 100 km mobil listrik rata-rata membutuhkan 20 kWh dengan biaya per kWh sebesar Rp 1.647.

"Roda empat full tank 20 kwh itu jarak tempuh 100 km. 1 kwh sekitar Rp 1647-an," ujarnya.

Selain hemat, mobil listrik juga memiliki keunggulan lain, diantaranya tidak mengeluarkan asap, sehingga ramah lingkungan, tidak menimbulkan suara, tidak menggunakan minyak pelumas dan pembakaran yang lebih hemat.

"Kenapa PLN optimistis mengembangkan infrastruktur kendaraaan listrik? Karena cepat atau lambat itu pasti akan datang. Kendaraan listrik enggak ada kenalpot, enggak keluar asap, enggak pakai ganti oli. Waktu jalanan macet, mesin mati. Kalau mobil biasa jalan terus, tetap membakar," jelasnya.

Lebih lanjut, PLN menganggarkan sekitar Rp 7 miliar dari kas perusahaan untuk membangun SPLU. Setiap SPLU berkapasitas 5.500 Volt Ampere.

Namun, selama mobil listrik belum diproduksi massal, PLN memanfaatkan SPLU untuk kebutuhan listrik masyarakat di tempat-tempat umum. Seperti para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pedagang kaki lima (PKL).

Pada skema pembayarannya, SPLU mengadopsi sistem prabayar. Supaya bisa memanfaatkan SPLU tersebut, masyarakat perlu mengisi pulsa (stroom) kWh meter dengan membeli token listrik melalui Payment Point Online Bank (PPOB), ATM, minimarket, dan lain-lain. Masyarakat tinggal menyebutkan ID Pelanggan yang tercantum di SPLU yang akan digunakan. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads