Pertamina Punya Kilang BBM di Papua, Tapi Kesulitan Cari Minyak

Pertamina Punya Kilang BBM di Papua, Tapi Kesulitan Cari Minyak

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 29 Agu 2017 07:24 WIB
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - PT Pertamina (Persero) terus mencari cara untuk menggenjot produksi kilang atau refinery unit (RU) VII Kasim di Sorong, Papua yang belum maksimal. Selama ini kilang tersebut kesulitan mendapatkan pasokan minyak mentah untuk diproduksi.

Direktur Pengolahan Pertamina, Toharso, menjelaskan Kilang Kasim Sorong merupakan kilang kecil dengan kapasitas produksi BBM 10 ribu barel per hari (bph). Padahal kebutuhan BBM untuk wilayah Papua sekitar 24 ribu bph.

Lebih disayangkan lagi, kapasitas produksi BBM Kilang Kasim ternyata tidak maksimal. Selama ini kilang tersebut hanya bisa memproduksi BBM 6 ribu bph.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama ini crude-nya (minyak mentah) itu dari lapangan minyak sekitar Sorong. Ada lapangan minyak Petrogas. Tapi hanya 6-7 ribu bph. Lalu ada lapangan EP di Sorong, mungkin dia hanya 1 ribu bph. Jadi totalnya itu 6-8 ribu bph produksi di sana. Tapi, bagiannya pemerintah kan enggak 100%, ada bagiannya KKKS (kontraktor kontrak kerja sama). Sehingga yang bisa masuk ke kilang Sorong kira-kira hanya kurang lebih 6 ribu bph," terangnya di Gedung DPR, Senin malam (28/8/2017).

Pertamina kini mencari cara kapasitas produksi BBM Kilang Kasim Sorong bisa maksimal 10 ribu bph, meskipun masih belum bisa menutup estimasi kebutuhan BBM di Papua. Caranya dengan mencari pasokan minyak mentah dari lapangan minyak di wilayah lainnya.

"Misalkan dari Cepu, untuk mendatangkan itu kan pakai kapal tanker. Mulai dari tanker kecil sampai besar, yang paling optimal itu kalau tanker itu membawa 200 ribu barel sekali bawa. Berarti kalau 200 ribu, utk memproduksi 20 hari. Supaya bisa operasi, turnover. Jadi diisi, produksi, isi, produksi, maka harus 200 ribu barel kali 2. Cuma yang paling bagus kalau dibikinnya tidak langsung 1 besar, tapi di-split. Maka 100 ribu barel kali 4," terang Toharso.

Namun untuk mendatangkan minyak mentah dari wilayah lainnya, Kilang Kasim Sorong juga butuh infrastruktur yang memadai. Untuk itu Pertamina akan membangun dermaga untuk kapal tanker pengangkut minyak mentah.

"Tanker ini kan datangnya bisa 10 hari atau 20 hari sekali. Jadi sekali datang bawa 200 ribu barel itu bisa disimpan dulu. Sekarang ini sedang direncanakan untuk pembangunan. Tanahnya sudah ada. Izinnya sedang diurus. Tender kontraknya mungkin menunggu akhir tahun ini," tambahnya.

Proyek pengembangan dermaga akan dilakukan akhir tahun ini dan ditargetkan selesai pada akhir 2018. Namun Toharso mengaku tidak mengetahui berapa jumlah nilai proyek pembangunan jetty Kilang Kasim Sorong nantinya.

Toharso mengatakan, saat ini kapasitas dermaga untuk Kilang Kasim Sorong hanya memiliki ukuran untuk menampung 17 ribu barel. Oleh karena itu sangat dibutuhkan perluasan dermaga.

Dengan selesainya proyek dermaga tersebut, Toharso yakin, kapasitas produksi Kilang Kasim Sorong akan maksimal 10 ribu bph. Sementara untuk menutupi kekurangan keburuhan konsumsi BBM di Papua 24 ribu bph, pihaknya akan mendatangan BBM dari kilang di Balikpapan. (wdl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads