Follow detikFinance
Senin 11 Sep 2017, 12:34 WIB

RI Mau Impor Mobil Listrik Dulu, Kemudian Kembangkan Sendiri

Michael Agustinus - detikFinance
RI Mau Impor Mobil Listrik Dulu, Kemudian Kembangkan Sendiri Foto: Pool
Jakarta - Pemerintah saat ini sedang menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk percepatan pengembangan mobil listrik. Dalam rancangan Perpres, impor mobil listrik dipermudah, ada insentif berupa pemangkasan Bea Masuk.

Kemudahan impor itu diberikan dengan tujuan mempopulerkan dulu mobil listrik di Indonesia. Ketika masyarakat sudah tertarik pada mobil listrik dan permintaan meningkat, baru didorong untuk diproduksi di dalam negeri.

Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Andy Noorsaman Sommeng, menyebut mobil listrik impor sebagai 'barang contoh' untuk dicontek. Tentu Indonesia tak bisa membuat mobil listrik yang bagus kalau tidak ada contohnya.

"Di mana-mana kan harus ada contoh, masyarakat kita selalu begitu. Kita enggak akan bisa bikin mobil kalau cuma dari gambar, harus lihat langsung, bongkar. Kalau sudah ada contoh, dipakai enak, biayanya murah, pasti banyak peminatnya," kata Andy kepada detikFinance, Senin (11/9/2017).

Dia mengakui, rencana impor mobil listrik dalam bentuk utuh (Completely Build Up/CBU) ini kurang mendapat dukungan dari produsen otomotif nasional.

Dalam Focus Group Discussion (FGD) di Bali pada 24 Agustus 2017 lalu, produsen otomotif di dalam negeri ingin impor mobil listrik dalam bentuk terurai alias Completely Knock Down (CKD) saja, kemudian dirakit di dalam negeri. Dengan begitu ada nilai tambah dan alih teknologi.

"Pak Menteri (Ignasius Jonan) waktu di Bali bertanya di forum, boleh enggak kita langsung impor mobil listrik CBU? Pemain-pemain otomotif enggak mau karena enggak ada nilai tambah. Ditanya lagi, kalau CKD bagaimana? Katanya oke, ada nilai tambahnya di dalam negeri, ada alih teknologi juga," ujarnya.

Menurut Andy sendiri, sebaiknya impor mobil listrik CBU dibuka dulu untuk sementara. Jika sudah tercipta pasar di dalam negeri dan teknologi sudah dipelajari, baru mulai produksi sendiri.

"Menurut saya, CBU dibolehkan saja dulu selama setahun. Nanti sudah banyak, bengkel ingin tahu. Barangnya ada dulu, begitu kalau kita mau merebut teknologi," tutupnya. (mca/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed