China-Korsel Berminat Bangun PLTA dan Pabrik Rp 372 T di Kaltara

China-Korsel Berminat Bangun PLTA dan Pabrik Rp 372 T di Kaltara

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Jumat, 15 Sep 2017 14:52 WIB
Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta - Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan hari ini mengadakan rapat koordinasi terkait pengembangan kawasan industri dan pelabuhan internasional di Tanah Kuning, Kalimantan Utara. Rapat tersebut dihadiri oleh Kepala BKPM Thomas Lembong, Gubernur Kaltara Irianto Lambrie, serta perwakilan dari Kementerian/Lembaga terkait.

Dalam rapat tersebut dibahas mengenai sinkronisasi antara para calon investor yang akan berinvestasi di Kaltara, baik untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), Kawasan Industri, dan Pelabuhan Internasional.

Irianto Lambrie mengatakan, investor asal China dan Korea Selatan akan berinvestasi dalam pembangunan PLTA dengan total potensi kapasitas 9.000 MW yang akan dihasilkan dari pembangunan lima buah bendungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tadi hadir PT Kayan Hydro Energy (investor asal China) yang sudah ingin membangun PLTA sejak 2010. Diharapkan awal tahun depan sudah bisa melakukan konstruksi dengan catatan mereka sudah bisa melengkapi persyaratan izin konstruksi bendungan, yang pada tahap pertama akan hasilkan 900 MW. Mereka akan membangun lima bendungan yang keseluruhannya nanti akan menghasilkan listrik 9.000 MW," katanya saat ditemui di Kemenko Maritim, Jakarta, Jumat (15/9/2017).

Dia bilang, pembangunan pembangkit ini diarahkan agar terintegrasi dengan pembangunan Kawasan Industri untuk pemanfaatan listriknya.

"Kalau PLTA Kayan mulai bangun tahun depan, maka Inalum harus mulai bangun pabriknya di 2020 di situ," ucap dia.

Begitu juga dengan Tsingshan Group, investor lainnya asal China yang akan ikut berinvestasi dalam pembangunan PLTA di Kaltara. Dalam dua bulan ke depan, diharapkan realisasi investasi dari investor-investor tersebut bakal segera rampung sehingga tahun depan, konstruksi bendungan yang akan dibangun dalam rangka pembangunan PLTA bisa dimulai.

Investor asal Korea Selatan, Hyundai grup kata dia juga berminat membangun pelabuhan dan PLTA skala menegah berkapasitas hingga 600 MW di sungai lainnya di Kalimantan Utara. Total nilai investasi dari kedua negara tersebut mencapai US$ 28 miliar atau setara dengan Rp 372 triliun (kurs Rp 13.300).

"Korea, yang nilai PLTA Hyundai saja US$ 1 miliar kapasitas 300 MW. Kalau untuk pengembangan Kawasan Industri bisa sampai US$ 7 miliar. Kalau Tiongkok US$ 20 miliar pada tahap pertama untuk pembangunan PLTA dan pengembangan Kawasan Industri," tukasnya. (eds/mca)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads