Dalam rapat tersebut dibahas mengenai sinkronisasi antara para calon investor yang akan berinvestasi di Kaltara, baik untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), Kawasan Industri, dan Pelabuhan Internasional.
Irianto Lambrie mengatakan, investor asal China dan Korea Selatan akan berinvestasi dalam pembangunan PLTA dengan total potensi kapasitas 9.000 MW yang akan dihasilkan dari pembangunan lima buah bendungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia bilang, pembangunan pembangkit ini diarahkan agar terintegrasi dengan pembangunan Kawasan Industri untuk pemanfaatan listriknya.
"Kalau PLTA Kayan mulai bangun tahun depan, maka Inalum harus mulai bangun pabriknya di 2020 di situ," ucap dia.
Begitu juga dengan Tsingshan Group, investor lainnya asal China yang akan ikut berinvestasi dalam pembangunan PLTA di Kaltara. Dalam dua bulan ke depan, diharapkan realisasi investasi dari investor-investor tersebut bakal segera rampung sehingga tahun depan, konstruksi bendungan yang akan dibangun dalam rangka pembangunan PLTA bisa dimulai.
Investor asal Korea Selatan, Hyundai grup kata dia juga berminat membangun pelabuhan dan PLTA skala menegah berkapasitas hingga 600 MW di sungai lainnya di Kalimantan Utara. Total nilai investasi dari kedua negara tersebut mencapai US$ 28 miliar atau setara dengan Rp 372 triliun (kurs Rp 13.300).
"Korea, yang nilai PLTA Hyundai saja US$ 1 miliar kapasitas 300 MW. Kalau untuk pengembangan Kawasan Industri bisa sampai US$ 7 miliar. Kalau Tiongkok US$ 20 miliar pada tahap pertama untuk pembangunan PLTA dan pengembangan Kawasan Industri," tukasnya. (eds/mca)











































