"Kalau kita lihat di pemerintahan sekarang, BPP turun terus. Mei 2014 sebesar Rp 1.419/kWh, lalu 2015 turun lagi jadi Rp 1.300/kWh, kemudian 2016 jadi Rp 1.265/kWh, per Agustus 2017 turun lagi menjadi Rp 1.226/kWh. Jadi ada penurunan, 3 tahun berturut-turut turun terus," kata Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Andy N Sommeng, dalam jumpa pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (19/9/2017).
Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN, Supangkat Iwan Santoso, mengatakan PLN tidak hanya giat meningkatkan pasokan listrik untuk masyarakat, tapi juga memperhatikan keterjangkauan harganya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita enggak asal membangun. Pembanguan pembangkit listrik ada least cost development plan supaya harga bisa tetap murah," ucapnya.
Penurunan BPP ini terutama merupakan dampak dari efisiensi biaya energi primer yang dilakukan PLN. Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) semakin menurun, diganti dengan bahan bakar yang lebih murah seperti batu bara, gas, panas bumi, air, dan sebagainya.
Pada 2009, peran BBM dalam bauran energi primer pembangkit listrik masih cukup besar, mencapai 25%. Tapi porsinya terus dipangkas hingga tinggal 15% pada 2012, 12% pada 2014, lalu turun lagi menjadi 8,58% pada 2015, kemudian dipangkas menjadi 6,96% di 2016, dan per triwulan II-2017 hanya 6,28%.
Sedangkan porsi batu bara terus meningkat. Pada 2009, hanya 39% dari total produksi listrik yang berasal dari pembangkit batu bara, lalu pada 2012 sudah tumbuh menjadi 50,27%, kemudian naik lagi jadi 52,87% pada 2014, dan sekarang sudah 56,85%. (mca/wdl)











































