Follow detikFinance
Senin 25 Sep 2017, 19:45 WIB

Proyek Gas Pertamina di Jatim untuk Kebutuhan Dalam Negeri

Imam Wahyudiyanta - detikFinance
Proyek Gas Pertamina di Jatim untuk Kebutuhan Dalam Negeri Foto: Imam Wahyudiyanta
Bojonegoro - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasiun Jonan telah melakukan peletakan batu pertama untuk proyek pengembangan gas lapangan unitisasi Jambaran-Tiung Baru (JTB) di Desa Bendungrejo, Bojonegoro, Jawa Timur. Proyek ini akan selesai pada 2021 dan memiliki fasilitas pemrosesan gas 330 juta kaki kubik per hari (million metric standard cubic feet per day/MMSCFD), dan produksi gas jual sebesar 172 MMSCFD

Adapun cadangan gas pada lapangan JTB ini 1,9 trillion cubic feet (TCF). Lantas, gas dari lapangan JTB ini akan dipasok ke mana?

"Seluruh produksi gas ini akan digunakan untuk kebutuhan dalam negeri," ujar ujar Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, Senin (25/9/2017).

Amien mengatakan, alokasi sebesar 100 MMSCFD dipasok ke Pertamina, yang kemudian dialirkan ke PLN untuk kebutuhan listrik di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara alokasi sebesar 72 MMSCFD untuk kebutuhan industri di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Untuk menyalurkan gas dari Lapangan JTB, pipa transmisi Gresik-Semarang akan dibangun oleh PT Pertamina Gas. Pembangunan pipa Gresik-Semarang sepanjang 267 kilometer menghabiskan investasi sebesar US$ 515 juta atau sekitar Rp 6,8 triliun.

Diharapkan industri berbasis gas dapat tumbuh di sepanjang pipa transmisi yang melintasi 7 kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah tersebut.

Harga gas di kepala sumur sebesar US$ 6,7 per MMBTU, dan sifatnya tetap (flat) selama 30 tahun. Dengan biaya toll fee sebesar US$0,9 MMBTU, harga di pembangkit listrik PLN menjadi sebesar US$7,6 per MMBTU.

"Ini komitmen industri hulu migas memprioritaskan konsumen dalam negeri," kata Amien.

Produksi gas yang dihasilkan melalui enam sumur, kata Amien, akan diolah melalui fasilitas pemrosesan gas/gas processing facilities (GPF). Dari rata-rata produksi sebesar 330 MMSCFD, GPF memisahkan kandungan CO2 dan H2S, sehingga menghasilkan gas yang dapat dijual sebesar 172 MMSCFD.


Amien menjelaskan, pemakai gas pipa domestik terbesar adalah konsumen industri, yang kemudian diikuti oleh kelistrikan. Sejak tahun 2013, alokasi domestik sudah lebih besar dari ekspor. Tahun 2017, kontrak gas domestik mencapai 3.855 MMSCFD, sedangkan ekspor sebesar 2.618 MMSCFD.

"Hampir 60 persen produksi gas bumi digunakan oleh domestik," lanjut Amien.

Amin menambahkan, hal yang membuat peningkatan pemakaian domestik antara lain adalah terbangunnya fasilitas infrastruktur gas baru dan mulai berproduksinya beberapa lapangan gas baru. Selain penerimaan negara, proyek ini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah maupun nasional. Misalnya, penyerapan tenaga kerja yang mencapai 6.000 orang pada masa konstruksi. (iwd/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed